![]() |
Oleh H. Chotib Hambari |
Berita Duka.
Ku mulai hariku saat itu, Senin 13 Oktober 2014, dengan rutinitas
seperti biasa, berjama’ah sholat Subuh di musholla dekat rumah, lalu usai
sholat kulakukan kegiatan-kegiatan ringan, karena hari itu aku harus persiapkan
kebutuhan-kebutuhan yang terkait dengan penyambutan kedatangan Emak, Neng, Cak
Emi dan Ibu Mertuaku dari tanah suci. Sebulan lebih aku berpisah dari mereka.
Rasa kangen dan rindu begitu menggelora dalam jiwaku hingga merasuki setiap
nadi pembulu darahku. Tak kujumpai sama sekali peristiwa-peristiwa yang aneh di
hari itu. Semua berjalan sesuai dengan apa yang telah ku rencanakan. Sejenak
wajah-wajah mereka yang letih berbaur dengan suka cita terbayang dalam mata
hatiku. Tanpa terasa jarum jam dinding terus berputar pelan tapi pasti, jarum
pendek mendekati angka 2 sedang yang panjang berada di antara angka 10 dan 11.
Ku dengar bunyi pesan BBM dari HP yang dari
tadi ada dalam genggamanku. Dari pojok layar tertulis bahwa pesan itu
dikirim oleh Om ku Jimmy yang juga berada di tanah suci. Teks BBMnya
tertulis : Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
![]() |
Om Jimmy |
Akupun tak mengindahkan pesan BBM itu,
karena aku masih sibuk membantu mekanis antena tv untuk memasang saluran tv
cable di rumah emakku. Ku anggap pesan itu adalah pesan yang kadaluarsa, karena
berita kematian famili emakku yang kukirim ke Om ku minggu lalu, baru terbalas
hari itu. Namun sebagai manusia yang selalu ingin tahu, ku buka pesan tersebut.
Saat hendak ku buka, baru lah terbersit pikiran-pikiran Tanya: “ojok-ojok
emak” (jangan2 emak), karena kondisi emak yang sakit dan seringkali drop
akibat diabetesnya. Maka ketika ku buka pesan itu dan ku baca kata demi kata,
akupun diam sesaat. Ku baca lagi dan ku baca lagi, tapi tulisan itu tidak
berubah sama sekali, malah mendorong linangan air mata di pipi bahkan
mengganjal jalan pernafasanku. Bergegas aku berlari ke kamar, ku peluk adikku,
Badi’ah sambil berucap dengan lirih kalimat: “Neng dik, Neng dik, Neng
dik!!!”.
“Neng opo’o Mas?Neng opo’o?” (Neng
kenapa mas? Neng kenapa?). Mulutku saat itu serasa terkunci dan sama sekali tak
mampu tuk menuturkan berita itu, hanya suara tangisan lirih dan linangan air
mata tiada henti membasahi pipi ini. Ku tunjukkan HP ku agar I’ah bisa baca
sendiri berita itu. Di saat yang bersamaan, HP tiada henti berbunyi, pesan demi
pesan saling berebutan masuk ke dalam HP ku, utamanya dari adikku yang jauh di
Kairo sana: “Ada berita apa mas, kok Om Sam ngirim pesan yang di awali
dengan kalimat ‘innaa lillaah.....’ aku
gak mau buka pesan itu mas”. Begitulah ucap adikku dalam pesan BBM-nya,
maka ku balas pesan tersebut dengan singkat “Neng dik...!!!” Berita
kematian Neng begitu cepat menyebar seiring dengan hembusan angin siang dalam
cuaca kemarau panas yang tak tertahankan, berita duka itu menggegerkan seluruh
santri dan walinya.
Hujan air mata dari para santri yang
sedang belajar mengeja huruf hijaiyyah dan belajar membaca Al Qur’an, diikuti
dengan tangisan air mata para wali santri yang mengiringi anak-anak mereka di
kemarau siang itu, membanjiri kelas-kelas yang ada di pondok Roudloh. Bahkan
sebagian dari para Ustadzah pingsan tak sadarkan diri karenanya. Sebuah berita duka
yang begitu mengejutkan dan tak pernah terbayangkan. Otakku pun dijejali dengan
berbagai macam pikiran-pikiran yang begitu menggelisahkan, baik dari kiprah Neng
di keluarga, di pondok dan di masyarakat sekitar, utamanya berkenaan dengan
putri semata wayang Neng, Thebba Elvana yang begitu polos
dan interaksinya begitu dekat dengan Neng. Memori otakku pun bekerja
dengan begitu cepatnya untuk merewind kenangan suka dan duka bersama Neng-ku
yang begitu polos, penyabar dan ringan tangan dalam memberikan bantuan kepada
siapapun yang membutuhkannya.
![]() |
Majlis Tahlilan |
Neng Muti’ah Hambari yang lahir pada tanggal 1 september 1970 adalah anak tertua
dari pasangan Abahku, Muhammad Bashori dan emakku, Mushollachah
yang dikarunia 6 orang anak: 3 perempuan dan 3 lelaki. Sedang aku adalah anak
yang ke-2, adik dari Neng Muti’ah. Kami berenam hidup dalam aturan
disiplin ketat yang diterapkan oleh abah dan emak dalam keluarganya. Di masa
SD-nya, Neng selalu berpacu prestasi intra kurikuler denganku, meski Neng
berada 2 tingkat di atasku, tapi saat itu prestasi Neng selalu di
bawahku. Meski begitu, istiqomahnya begitu menakjubkan, hingga prestasiku pun
jauh tertinggal saat duduk di bangku SMP. Neng yang alumnus SMP Khadijah
Surabaya melanjutkan jenjang SMA-nya di MAN 2 Jogjakarta, sambil mondok di
pesantren Al-Munawwir, asuhan (alm) KH Ali Ma’shum.
Di sana Abah sempat menitipkan Neng
kepada salah seorang murid Abah yang saat itu sudah menjadi senior di lingkup
pesantren untuk dibimbing dan dibina sebaik mungkin. Lelaki itu tak lain adalah
lelaki yang menikahinya pada tahun 1995 yang lalu. Meski kala itu tak terbersit
sedikitpun dalam benak kami semua. Bahwa kelak lelaki itu akan menjadi suami Neng,
menantu Abah dan Emak, serta kakak ipar kami.
Subhaanallah... tamat dari MAN 2 Jogjakarta, Neng melanjutkan
studinya di perguruan tinggi swasta UBAYA Surabaya. Farmasi adalah fakultas yang diambil, sebuah
jurusan yang tak diduga telah mengantarkan Neng menjadi sosok yang
berdaya guna tinggi di tengah-tengah masyarakat dalam bidang kesehatan. Meski
saat memilih jurusan itu, ada komentar-komentar “miring” berkenaan
dengan kegunaan jurusan tersebut untuk da’wah islamiyah. Sang komentator
mengira bahwa jurusan Farmasi tersebut kurang begitu manfaat. Tapi Alhamdulillah
tidak demikian adanya, karena kita bisa
berdakwah sesuai dengan bidang kita masing-masing.
Lulus dari Farmasi, Neng
melanjutkan pendidikan profesinya dan berhasil menyandang gelar Apoteker. Dari
situlah kiprah Neng dalam bidang obat-obatan mulai terlihat.
***********
Cak Emi, lelaki yang menikahi Neng, demikian dia biasa disapa
oleh para koleganya, begitu juga dengan cara Neng menyapanya. Bahkan
panggilan Cak Emi begitu familiar bagi Neng, hingga
panggilan itu terbawa sampai Cak Emi menjadi suaminya, tak ubahnya seperti emak
yang selalu menyapa abah dengan Cak Mat, sama sekali tak
terbersit di benak Neng tuk merubah panggilan atas suaminya dengan Mas
Emi, Ayang Emi, apalagi Papa Emi. Berbeda dengan 2 adik
perempuannya yang sudah menyapa suaminya dengan awalan “Mas”. Mungkin Neng gak mau rasa sayang
kepada suaminya fluktuatif seperti harga “mas” di pasar international.
Dia mau sayangnya istiomah seperti Emak kepada Abah.
Kolaborasi antara Neng dan Cak
Emi dalam membina rumah tangga begitu sejuk dan menenangkan, bak angin
dingin yang berhembus halus di alam pegunungan tropis. Jarang sekali ku jumpai erupsi-erupsi panas
sepanas erupsi gunung Sinabung yang tiada henti mengeluarkan awan panas. Cak
Emi begiti sabar dan mengerti dengan kondisi Neng yang begitu polos
dalam bidang apapun. Di bidang fashion, Neng begitu polos. sederhana dan
apa adanya. Konsep polos apa adanya itupun diterapkan baik kepada Cak Emi
maupun Thebba Elvana, anaknya. Seperti adanya peristiwa baju dinas yang
batal dicuci meski sudah masuk ke dalam bak pencucian, karena seragam itu harus
digunakan pada hari itu, maka dengan santainya pula Cak Emi memakai baju
tersebut sambil berjalan turun dari lantai 2 dengan bibir yang menggapit rokok
SIN kegemarannya. “Aliran” polos apa adanya Neng berimbas pula pada anak
semata wayangnya, Thebba. Neng memanfaatkan sarung-sarung dari kondangan
yang memang menumpuk di rumah. Neng menyulap kain-kain sarung tersebut
menjadi celana serba guna: guna tuk celana bermain, guna tuk celana tidur,
bahkan guna tuk celana wisata. Dengan kesederhanaan Neng yang begitu
menakjubkan, disertai dengan sumber penghasilan, baik dari Cak Emi maupun
dirinya sendiri, tanah kavling mampu mereka beli.
Usai Resepsi pernikahan Neng dan Cak Emi
yang berlangsung dengan sederhana tapi hikmat, Neng diboyong oleh suaminya yang
saat itu bertugas sebagai guru PNS di kota Gudeg. Di sana mereka berdua
mengontrak rumah mungil sederhana beralaskan semen tanpa keramik. Beberapa tahun kemudian Cak
Emi bermutasi dari Jogja menuju ke Gresik. Keakraban dan kedekatan kami pun
semakin terbangun dengan baik. Dari
situlah aku baru tahu bahwa Cak Emi
adalah seorang suami yang ruaar biasa kesibukannya, tak kenal letih ataupun
lelah. Jika diibaratkan mesin mobil, mk Cak Emi laksana mesin diesel heavy duty
yang dibekali dengan 200 tenaga kuda.
5 tahun kemudian Neng dikaruniai seorang
anak perempuan yang saat lahir dibutuhkan perawatan khusus bagi sang anak,
karena adanya sedikit problema medis yang ada pada anak tersebut. Sejak itulah
babak baru dalam kehidupan Neng dimulai. Sepulang dari rumah sakit, Neng dan
Cak Emi begitu sabar dan telaten dalam merawat buah hati satu-satunya yang
diberi nama Thebba Elvana.
*************
Kesederhanaan itu tak menghalangi jiwa
sosial Neng dalam memberikan bantuan kepada siapapun, baik bantuan materi
maupun tenaga, lebih-lebih bantuan berupa pinjaman jangka panjang karena
dibayar nunggu warisan, dan bisa jadi tanpa bayar kepada adik-adik
kesayangannya.
Jiwa sosialnya tercermin dalam
kegemarannya tuk berbagi rizki berupa banca’an dan angpau-angpau yang
dibagikannya di momen-momen hari besar Islam. Jiwa sosialnya juga merasuk dan
terlihat pada praktek profesinya sebagai seorang apoteker yang berwawasan social
oriented. Dia membantu banyak warga dengan obat-obatan yang murah meriah,
bahkan, ada istilah buy back return atau membeli kembali obat dari
pasien yang sudah sembuh meski dengan nominal di bawah Rp. 10.000. “Sakno
Tib, duit segitu bagi wong-wong itu sangat berharga”. Demikian nasihatnya
kepadaku. Bahkan kami saudara-saudaranya seringkali mendapatkan obat secara
gratis darinya, sampai pada suatu ketika, obat gratis yang diberikan Neng untuk
anakku gak berpengaruh apa-apa. Maka kusampaikan kepada Neng: “Kayaknya
aku gak boleh menerima gratisan dari pean Neng”. Candaku saat itu.
Keajaiban dan keberkahan finansial
kolaborasi Neng dan Cak Emi semakin nampak saat Neng menyunting mobil Toyota
Kijang Innova Diesel Type G dari dealer Toyota Arina Veteran Gresik. Rumus
matematika baik Aljabar, Geometri maupun Aritmatika sudah tak dapat ku gunakan
lagi, karena di saat yang bersamaan Neng dan Cak Emi juga harus melunasi
ONH-nya.
“Aliran” apa adanya juga diterapkan Neng
dalam aspek kuliner. Bagi Neng pribadi, bahkan Cak Emi atau Thebba,
makan dengan lauk kerupuk dan kecap adalah hal yang biasa. Menu andalannya
adalah tongkol bumbu rica-rica ala Neng Muti’ah, Sebuah menu sederhana dan tak
membutuhkan banyak bumbu seperti gule atau krengsengan. Menu itu juga sangat
disukai oleh suaminya. Pernah suatu hari ku mencobanya, ternyata mantaaap.
Bakso kanji, martabak dan empek-empek mengembang (bukan Palembang) juga menjadi
kreasi kuliner andalannya. Setiap kali kubawa makanan itu ke GKB, anak-anakku
dengan suka cita menyantapnya. Namun kepolosan tersebut terkadang juga
menimbulkan tiga tragedi lucu yang menimpa suami Neng, Cak Emi. Yaitu: tragedi
kopi pedas, tragedi kopi seduh air hangat-hangat kuku, dan tragedi kopi rasa
vanila. Atas tragedi-tragedi tersebut, Cak Emi dengan senyum khasnya berujar
kepada Neng “mene ojok ngono mane, Tik! hehehe” tanpa terbersit
sedikitpun rasa kemarahan pada wajahnya.
**************
Kesederhanaan pendidikan dan berjiwa
sosial. Sebagai Ibu dari Thebba, dia didik dan
ajari Thebba langsung tanpa harus repot menyediakan budenganet untuk les
private seperti ibu-ibu di zaman modern ini. Dia persilahkan teman-temen
anaknya untuk bersama-sama belajar kelompok di bawah pengawasannya, tanpa
memungut biaya sepeserpun dari para wali anak-anak tersebut. 5 tahun lebih
kelompok belajar tersebut diasuhnya. Diasuhnya anak-anak tersebut dengan tulus
dan istiqomah. Sebuah kebaikan dalam skala mikro yang jarang diperhatikan oleh
orang-orang karena kesibukannya. Neng juga aktif mengajar di pondok
Roudloh, kreasi-kreasi pementasan anak-anak didiknya di pentas akhirussanah
juga begitu atraktif.
Di tempat tinggalnya yang baru, tepatnya
di Jl. Jaksa Agung Suprapto 5c/7 Sidokumpul Gresik, tanpa sengaja Neng
dipercaya memimpin alamiyah yasinan dan tahlilan ibu-ibu. Di sela kegiatannya
itu, dia juga berusaha membantu orang-orang sekitar dengan info obat-obatan yang
diketahuinya selaku Apoteker. Rutinitas Neng dalam mobilisasinya saat itu
ditunjang fasilitas transportasi yang minim.
**************
Mbandriek. Itulah istilah yang dikenal di kalangan tukang ojek motor yang
berpenumpang lebih dari satu, dan itulah yang terjadi pada Neng, Cak Emi dan
Theba. Tanpa rasa risih dan malu, mereka bertiga mbandriek kemana-mana
dengan sepeda motor honda vario, atau honda GL Max yang dihadiahkan oleh emak
untuk mereka. Memang dalam keluarga Hambari, jatah awal bagi setiap anak yang
sudah menikah adalah satu unit sepeda motor. Aktifitas mbandriek bagi
Neng dan Cak Emi adalah hal yang biasa, tapi bagi emak adalah hal yang
memprihatinkan.
Seiring dengan berkembangnya situasi dan
kondisi, maka emakpun mengeluarkan kebijakan baru, dengan mengucurkan dana
dalam jumlah dan waktu tertentu bagi setiap anak untuk pembelian kendaraan roda
empat. Dalam agenda yang tak tertulis, dana untuk Ning akan dicairkan pada
pertengahan tahun 2015. Namun tanpa kuduga, Neng memiliki dana talangan pribadi
untuk pembelian mobil yang diidamkannya. Maka digunakanlah dana tersebut untuk
meminang satu unit innova diesel type G terbaru. Sebuah keberkahan dan
keajaiban yang jauh dari estimasi rumus matematika. Tekad bulat Neng dan Cak
Emi tuk menghilangkan budaya mbandriek telah di-acc oleh rabbul
alamiin.
Tekad bulat Cak Emi tuk bisa mengendarai
mobil tersebut, agar bisa berpergian dan berwisata dengan Neng dan anak semata
wayangnya, Thebba, membuat Neng tak malu-malu tuk memposisikan dirinya sebagai kenek
(co driver) bagi Cak Emi ketika menghadapi medan jalan yang sempit. Subhanallah,
Neng bukan hanya kenek dalam bahtera rumah tangga yang dikapteni Cak Emi, tapi kenek
dalam semua persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Cak Emi dalam setiap aspek
kehidupan Cak Emi.
Mobilisasi Cak Emi dengan motor yang
begitu intens membuat Neng sedikit memaksa Cak Emi tuk bisa mengemudi mobil
yang telah disuntingnya, hingga Cak Emi bisa bermobilisasi dengan mobil
tersebut. Paksaan itu timbul tidak lain karena rasa ngeman Neng terhadap
Cak Emi yang begitu tinggi, “Aku sakno karo Cak Emi... wis towok soro, tib
nangdi2 sepeda-an”, sebuah perpaduan pasangan yang begitu proporsional.
Cak Emi dengan sikap tawadlu’nya sama
sekali tak menyalahgunakan kepolosan Neng untuk hal-hal yang negatif,
sebaliknya Neng berusaha dengan keras dan sungguh-sungguh tuk ngeman Cak
Emi, suaminya seoptimal mungkin, dengan memaksa mobilitas Cak Emi dari
bersepeda menjadi bermobil. Sejak dibelinya 12 bulan yang lalu, 8 bulan mobil
itu vacum, bahkan emak menyebut mobil itu “masuk angin” karena cover penutupnya
jarang dibuka. Juga sejak 3 bulan yang lalu Cak Emi sudah bisa mengemudikan
mobil itu sendiri. Pada bulan Ramadhan kemarin Dia telah wujudkan impian Ning
tuk pergi semobil dengan suami dan anak semata wayangnya yang tentunya
dikemudikan oleh suami tersayangnya, Cak Emi.
Dua Gus : Gus Nidhom & Gus Kelik |
Mendekati bulan haji, mobilisasi Cak Emi
semakin tinggi, sebab selain dia dan Neng hendak berhaji, Cak Emi juga
dipercaya memimpin KBIH Al-Madani yang dikomandani oleh Gus Nidhom. Neng pun
tak tinggal diam, dia bantu suaminya semaksimal mungkin dari
persiapan-persiapan catering tuk manasik haji dll. Neng bersyukur karena
mobilisasi Cak Emi ditunjang dengan mobil yang mereka miliki. Dalam rentan
waktu 2 bulan tersebut, ada beberapa hari yang Ning dan Cak Emi gunakan pergi
bersama-sama dengan Thebba, anaknya.
Pada suatu pagi, Sabtu 6 September 2014,
saya mengantar Neng dan Cak Emi ke Pemda Gresik untuk keberangkatan hajinya.
Neng dan Cak Emi duduk di bangku tengah laksana pengantin baru, sedang Thebba
duduk di bangku depan mendampingiku sambil tiada henti dia tirukan lirik-lirik
lagu Maher Zein dari kepingan CD yang lagi diputar. Tak terbayang sedikitpun
dalam hati saya, bahwa itulah pertemuan terakhirku dengan Neng yang diam-diam
aku begitu mengaguminya.
Penutup
Kutulis penutup dari kesan-kesanku ini
dengan linangan air mata yang tak dapat kuhentikan, karena sebuah kerinduan
akan canda tawa yang selama ini ku perbuat bersama Neng. Juga penyesalan yang
tak terukur atas sikapku yang tak terpuji kepada Neng. Sebagai tamuNya, Dia tak
perkenankan Neng tuk pamit pulang. Malah Dia ajak Neng tuk menghadap kepadaNya.
Semoga Dia berikan maqoman mahmuda di sisiNya.
![]() |
Berdoa sambil merangkul Ka'bah di bawah Talang emas Hijir Ismail |
“Selamat Jalan Ning! Berbahagaialah
Sampeyan! Karena Rasa Kangen Pean Dengan Abah Telah Terobati”
No comments:
Post a Comment