Jama'ah Pengajian "ذِكْرُ الْمَوْت"

Sunday, 4 June 2017

Hakekat Makam Rasulullah SAW







Oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
HAKEKAT MAKAM RASULULLAH SAW
Segolongan orang memandang makam Rasulullah saw sekedar sebagai ruang kubur semata. Dengan pandangan seperti itulah maka tidak aneh jika mereka memiliki persepsi, anggapan dan pandangan yang aneh lagi ‘nyeleneh’  pula. Hati mereka dipenuhi dengan suuzhan (prasangka buruk) yang berlebihan kepada kaum muslimin yang berziarah ke makam beliau saw dan berdoa di sampingnya, lalu mereka berkampanye : “Jangan bersusah-susah pergi ke makam Rasulullah saw, dan tidak boleh berdoa di samping makam beliau saw, dll”. Bahkan omongan mereka terkadang ‘nyelekit’ dan menyakitkan hati, misalnya : “Berdoa di samping makam adalah syirik dan kufur… menghadap ke makam adalah perbuatan bid’ah dan syirik, dan seterusnya”. Tuduhan syirik, kafir, bid’ah dan sesat seperti yang mereka lontarkan itu merupakan tindakan yang tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya, serta bukan didasarkan atas pandangan dan pemikiran yang sehat. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan sikap dan perilaku kaum salaf yang mereka banggakan.  
Kajian kami tentang makam Rasulullah saw, berziarah ke makamnya, bepergian jauh dalam rangka mengunjungi makamnya, dan berdoa kepada Allah swt di samping makamnya, bukanlah dimaksudkan untuk menciptakan permusuhan, perpecahan, pertentangan dan mengadu domba kaum muslimin. Akan tetapi yang terpenting adalah  ingin membicarakan sosok seorang “Tokoh” yang menghuni makam tersebut.
Makam Rasulullah SAW
 
Perlu diketahui, bahwa penghuni makam tersebut adalah seorang Sayyidul Mursalin wal Akhirin, makhluk Allah swt yang paling utama, Nabi yang teragung, dan seorang Utusan Allah yang paling mulia, Nabi Muhammad saw . Makam tersebut tidak ada harganya sama sekali seandainya didalamnya tidak ada beliau saw. Demikian pula kota Madinah dan kaum muslimin tidak memiliki harga dan nilai sedikit pun seandainya tanpa kehadiran beliau saw di bumi ini. Karena mereka itu, seandainya tidak ada pribadi beliau saw, tidak ada Risalah yang beliau saw bawa, tiadanya keimanan dan kecintaan kepada beliau saw,  serta pernyataan syahadat dianggap tidak sah kecuali dengan mengakui beliau saw sebagai Rasulullah, maka mereka (kaum muslimin) tidak akan pernah ada di dunia, tidak akan dapat berdiri kokoh, dan tidak akan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.
Berangkat dari persoalan ini, sewaktu Ibnu Aqil ditanya seseorang tentang keutamaan antara cungkup makam Rasulullah saw dengan bangunan Ka’bah, dia mejawab : “ Kalau dilihat dari segi bangunan fisiknya, Ka’bah jelas lebih utama daripada cungkup makam Rasulullah saw. Namun jika yang Anda maksudkan adalah cungkup makam yang didalamnya ada jenazah beliau saw, maka jelaslah bahwa makam beliau saw yang lebih utama daripada Ka’bah. Bahkan, Demi Allah, ‘Arasy, penyanggah ‘Arasy, dan surga ‘Aden,  tidak ada nilai dan harganya bila dibanding dengan makam beliau saw. Karena didalam makam tersebut terbaring satu jasad seseorang yang seandainya ditimbang dengan kedua alam dunia dan akhirat, tentu akan berat sebelah, masih berat makam tersebut”. (Baca kitab Bada-iul Fawaid, tulisan Ibnul Qayyim).
Itulah maksud dan tujuan kami mengkaji persoalan makam Rasulullah saw, keutamaannya, menziarahinya, dan bepergian jauh menuju ke sana. Dan dari kenyataan ini pula  para ulama Malikiyah berkomentar : “Tidak sepantanya seseorang mengatakan ‘Aku menziarahi makam Rasulullah saw’, seharusnya yang dia ucapkan adalah ‘Aku menziarahi Rasulullah saw”. Komentar mereka ini merupakan pentafsir terhadap pernyartaan imam Malik : “Aku tidak menyukai seseorang mengatakan ‘Aku menziarahi makam Rasulullah saw’ .
Kenapa begitu? Karena yang diziarahi itu adalah orang yang masih mampu mendengar ucapan dan mampu melihat  para peziarahnya, serta mampu merasakan, mengenal dan mengembalikan setiap ucapan salam yang ditujukan kepadanya. Dengan demikian, seharusnya yang menjadi maksud dan tujuan para peziarah adalah bukanlah  bangunan fisik makam Rasulullah saw, akan tetapi lebih dari itu, yakni jasad beliau saw terbaring didalam makam tersebut.
Ad-Darimy didalam kitab Sunan-nya menuturkan, bahwa telah bercerita kepadanya Abdullah bin Shalih, dari al-Laits, dari Khalid bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Nabih bin Wahab. Bahwa pada suatu hari Kaab  pernah berada didalam rumah Aisyah ra, sementara orang-orang sama menyebut nama Rasulullah saw di situ, maka berkatalah Kaab kepada mereka : “Tiada satu hari pun berlalu, melainkan turun 70.000 ribu malaikat yang senantiasa mengelilingi makam Rasulullah saw seraya mengepak-epakkan sayapnya dan bershalawat kepadanya. Jika hari sudah sore, mereka meninggalkan makam beliau saw lalu diganti dengan rombongan 70.000 malaikat yang lain. Begitu seterusnya sampai hari kiamat”. (Sunan ad-Darimy, juz 1, halaman 44).  Al-Hafizh Ismail Al-Qadhy. Juga meriwayatkan Atsar ini. Dan Atsar ini baik untuk diikuti, dijadikan sebagai dalil, biografi dan fadhailul a’mal.
BERDOA DI SAMPING MAKAM RASULULLAH SAW
 Para ulama menjelaskan, bahwa orang yang sedang berziarah disunnahkan berhenti sejenak di samping makam Rasulullah saw, lalu menghadap ke arah kiblat seraya berdoa kepada Allah swt untuk memohon kebaikan dan rahmat-karunia sesuai dengan keinginannya. Berhenti sejenak di samping makam beliau saw seraya berdoa bukanlah merupakan suatu perbuatan kufur, bid’ah, sesat atau syirik. Bahkan mereka menetapkannya sebagai amalan sunnah.
Sewaktu khalifah Abu Ja’far Al-Manshur, seorang khalifah Bani Abbasiyah, berkunjung ke Madinah dan menemui Imam Malik, terjadilah dialog interaktif didalam Masjid Nabawi. Imam Malik mengatakan: “Wahai Amirul Mukminin! Jangan Anda keraskan suaramu didalam Masjid ini, karena tatakrama semacam ini memang diajarkan Allah swt kepada kaum muslimin :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari” . (QS Al-Hujurat,[49] : 2).
Allah swt memuji sikap kaum muslimin didalam firman-Nya :
إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS Al-Hujurat,[49] : 3)
Selanjutnya Allah swt mencela mereka karena sikapnya yang kurang sopan :
إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ(4). وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (5)
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al-Hujurat,[49] : 4-5)
Ketentuan tatakrama semacam itu berlaku baik sewaktu Rasulullah saw masih hidup maupun setelah wafatnya”.
Mendengar penuturan Imam Malik tersebut, Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur berkata: “Wahai Abu Abdillah (nama panggilan Imam Malik), apakah aku berdoa sambil menghadap ke arah kiblat ataukah ke arah makam?”.
Imam Malik menjawab : “Kenapa engkau harus memalingkan muka dari beliau saw, sementara beliau saw adalah “wasilah” engkau dan “wasilah” ayah engkau, yakni Nabi Adam as, pada hari kiamat nanti? Bahkan sebaliknya,  hadapkan saja wajah engkau ke arah beliau saw, lalu meminta syafaatnya, semoga Allah swt mengabulkan syafaatnya. Allah swt berfirman :
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS An-Nisa’,[4] : 64).
Kisah di atas dituturkan oleh Al-Qadhy ‘Iyadh didalam kitabnya, Asy-Syifa’ fit-Ta’rif bi Huquq al-Musthafa, didalam bab “Ziayarah”. 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, menurut Ibnu Wahb, bahwa Imam Malik pernah berkata : “Jika akan mengucapkan salam kepada Rasulullah saw, hendaklah sambil menghadapkan wajahnya ke arah makam beliau saw, bukan ke arah kiblat. Kemudian sebaiknya mendekat ke arah makam, lalu mengucapkan salam kepada kedua sahabat beliau saw, diteruskan berdoa. Tidak perlu mengusap-usapkan tangannya pada tembok makam beliau saw”. (Iqtidhaus Shirathil Mustaqim, halaman 396).
Imam An-Nawawy juga menjelaskan seperti itu didalam kitabnya yang terkenal, Al-Adzkar an-Nawawiyah, pada Bab “Ziayarah”, dan didalam kitab Al-Idhah  pada Bab “Ziyarah”, serta didalam kitab Al-Majmu’ pada juz 8 halaman 398)
PANDANGAN IBNU TAIMIYAH  
 Setelah menukil pendapat para ulama, lalu Ibnu Taimiyah berkomentar : “Para ulama telah sepakat memperbolehkan menghadapkan wajah ke arah kiblat, namun mereka berselisih faham tentang hukum membelakangi makam sewaktu berdoa”.
Itulah resume dan intisari pendapat Ibnu Taimiyah dalam thema ini. Seandainya orang yang bersikap moderat lagi rasional merenungkan pernyataan Ibnu Taimiyah, “Para ulama berselisih faham tentang hukum membelakangi makam sewaktu berdoa”, tentu ia akan memahami apa yang tersembunyi di balik hatinya dan akan menyimpulkan bahwa para peziarah yang berdiri sambil berdoa di samping makam Rasulullah saw setelah mengucapkan salam kepadanya adalah orang-orang yang konsisten terhadap akidah tauhidnya dan benar-benar termasuk golongan orang yang beriman. Karena persoalan ini masih diperselisihkan di kalangan ulama salaf, mereka masih memperselisihkan tentang sunnah dan tidaknya menghadapkan wajah ke arah makam. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah, apakah hanya karena masih diperselisihkan itu lalu harus keluar tuduhan syirik, kufur, bid’ah dan sesat? Subhanaka hadza buhtanun ‘azhiim, Maha Suci Engkau, Ya Allah! Ini merupakan kebohongan yang besar.
Yang dilarang sebenarnya adalah  sengaja memilih berdoa secara khusus di samping makam, atau sengaja pergi ke makam khusus untuk berdoa dan mengharapkan terkabulnya doa di sana, atau merasa bahwa berdoa di samping makam adalah lebih dikabulkan daripada di tempat-tempat selainnya. Sedangkan berdoa sewaktu di tengah perjalanannya dan bertepatan dengan melewati suatu makam, lalu berdoa di sampingnya, atau menziarahi suatu makam lalu mengucapkan salam kepada penghuninya dan diteruskan dengan berdoa kepada Allah swt di tempat itu, maka tidak perlu merubah posisinya dari menghadap ke arah makam menjadi menghadap ke arah kiblat. Peziarah yang mempraktekkan cara seperti ini tidak berhak dituduh telah melakukan perbuatan syirik, kufur dan bid’ah.
Ibnu Taimiyah didalam kitab Iqtidhaus-Shirathil Mustaqim, pada halaman 336, mengatakan : “… diantara yang masuk dalam persoalan ini adalah sengaja mendatangi makam khusus untuk berdoa di sampingnya, karena berdoa di samping makam dan di tempat-tempat selainnya dapat dibedakan menjadi dua:
Pertama. Boleh berdoa di sekitar makam, selama hal itu tidak sengaja dilakukan untuk mengkhususkan berdoa di situ, misalnya boleh bagi orang yang  bertepatan   melewarti suatu makam, atau orang yang berziarah ke suatu makam lalu mengucapkan salam kepada ahli kubur diteruskan berdoa kepada Allah swt untuk memohon kesejahteraan dan kebaikan, baik untuk dirinya maupun untuk ahli kubur. Cara berdoa semacam ini tidak apa-apa dilakukan.
Kedua. Sengaja memilih berdoa secara khusus di suatu makam tertentu, disertai perasaan bahwa berdoa di tempat itu lebih dikabulkan daripada di tempat selainnya. Cara berdoa semacam ini dilarang : ada kalanya jatuh kedalam larangan yang bersifat haram dan atau larangan yang bersifat makruh tanzih, yakni kemakruhan yang mendekati keharaman. Sama halnya dengan terlarangnya memilih berdoa secara khusus di samping berhala, di depan salib, gereja, candi dan sejenisnya sambil mengharapkan bahwa berdoa di tempat-tempat itu lebih makbul daripada di tempat lain. Bahkan seandainya ada orang yang secara sengaja menjadikan rumah, toko, pasar atau beberapa jalan tertentu sebagai tempat khusus untuk berdoa dan diyakini lebih makbul daripada di tempat lainnya, maka cara berdoa semacam ini pun dilarang. Ringkas kata, cara berdoa semacam ini termasuk perbuatan munkar yang perlu dihindari, karena tidak ada keutamaan sama sekali berdoa di tempat-tempat itu menurut pandangan syariat Islam.
Sengaja bepergian ke suatu makam dengan niat secara khusus berdoa di situ adalah suatu larangan, bahkan lebih besar daripada yang lain, disebabkan Rasulullah saw melarang menjadikan makam-makam sebagai tempat peribadatan, tempat perayaan, dan melakukan shalat di sampingnya. Hal ini berbeda dengan tempat-tempat yang lain.
Ibnu Taimiyah didalam kitab Iqtidhaus-Shirathil Mustaqim pada halaman 338 menyatakan : “Sesungguhnya sengaja mendatangi makam secara khusus untuk berdoa dan harapan terkabulnya doa di situ lebih besar daripada di tempat lain merupakan perbuatan yang tidak pernah disyariatkan Allah swt dan Rasul-Nya, tidak pernah dilakukan seorang pun dari para sahabat Nabi, tabi’in, tabiut-tabi’in dan para ulama salaf, bahkan tidak pernah diajarkan oleh seorang pun ulama muthakir saat ini” Sementara pada halaman  339 didalam kitab yang sama, dia menegaskan, bahwa jika seseorang mau merenungkan dan menghayati kitab-kitab Atsar yang ada dan mengetahui kondisi perilaku kaum salaf, tentu ia akan yakin seyakin yakinnya bahwa pada dasarnya kaum muslimin tidak akan memohon pertolongan kepada Allah swt di samping makam, bahkan mereka akan berusaha mencegah dari perbuatan yang demikian itu. Kalaupun di antara mereka ada yang melakukannya, hal itu lebih disebabkan oleh kebodohannya.
PANDANGAN SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
Dia pernah ditanya orang tentang pendapat para ulama mengenai Istisqa’ (memohon turunnya hujan), kebolehan bertawassul dengan kaum shalihin, pendapat Imam Ahmad bin Hambal tentang bertawassul secara khusus dengan Rasulullah saw, serta pendapat para ulama yang tidak memperbolehkan meminta pertolongan kepada sesama makhluk Allah swt.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjawab : “Perbedaannya jauh sekali. Pembicaraan mereka itu tidak ada yang cocok untuk kita. Sebagian ulama membolehkan bertawassul dengan kaum  shalihin, sebagiannya lagi membolehkan bertawassul khusus dengan Rasulullah saw, dan sebagian besar mereka melarang melakukan tawassul seperti itu dengan hukum ‘makruh’. Atas dasar itu, kita tidak boleh mengingkari orang yang melakukannya dan mengingkari persoalan Ijtihadiyah mereka. Akan tetapi yang perlu kita ingkari adalah orang yang berdoa memohon sesuatu kepada sesama makhluk lebih besar daripada berdoa kepada Allah swt dan orang yang sengaja mendatangi suatu makam, misalnya makam syaikh Abdul Qadir al-Jilany dan makam kaum shalihin pada umumnya, sambil merendahkan diri di sampingnya dengan maksud untuk mencari ketentraman hati dari berbagai kesulitan dan mencari pertolongan dalam memecahkan problem hidupnya. Bagaimana mungkin perbuatan semacam itu pantas dilakukan oleh orang yang secara ikhlas berdoa kepada Allah swt, memurnikan ketaatannya kepada-Nya dan tidak menyeru seorang pun bersama Allah swt ? Sementara didalam teks doanya ada kata-kata, misalnya, Aku memohon kepada-Mu, Ya Allah, dengan perantaraan Nabi-Mudengan perantaraan para Nabi… dengan perantaraan hamba-Mu yang shaleh… dan lain-lain!. Atau orang itu senagaja datang ke suatu makam, baik yang ia kenal maupun yang tidak, lalu berdoa di sampingnya, da  ia tidak berdoa melainkan hanya kepada Allah swt sambil memurnikan ketaatannya kepada-Nya?. Mana mungkin hal ini kita lakukan?! “. (Fatwa-fatwa asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang dihimpun didalam “Kumpulan Karangan” dengan judul “Majmu’ al-Muallafat”, Bagian ketiga, halaman 68, yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh Universitas Islam al-Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh-Saudi Arabia).
 
==============================================
*) Sumber : Diambil dari salah satu bagian dari kitab :
Judul Asli
: مفـاهـيم يجب أن تـصحح
Penulis
: Prof. DR. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
Alih Bahasa
: Achmad Suchaimi
Judul Terjemahan
: Pemahaman Yang Perlu Diluruskan (PYPD)

Thursday, 27 April 2017

AJARAN-AJARAN POKOK WALISONGO - [ZW 8]






KH Raden Abdullah bin Nuh mengatakan didalam bukunya, Walisongo, bahwa kesembilan Wali tersebut mengajarkan agama Islam secara murni, bermadzhab syafii dan beraliran Ahlussunnah Waljamaah. Sedangkan Drs Wiji Saksono dalam bukunya, Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo, menga-takan, bahwa dari kesembilan Walisongo tersebut, hanya Sunan Bonang yang hingga kini dapat diketahui dengan jelas pokok-pokok ajarannya dan dapat dijadikan sebagai pegangan atau sumber rujukan. Sementara ajaran Walisongo yang lain dinilai masih sangat samar dan belum terungkapkan. Banyak sekali orang yang berusaha mengungkap ajaran mereka melalui kisah-kisah, sebagaimana yang tertulis didalam buku-buku babad dan tersiar dari mulut ke mulut, akan tetapi masih belum dapat dipandang sebagai fakta sejarah dalam pengertian yang sebenarnya.
Meski hanya ajaran dan wejangan Sunan Bonang saja yang telah jelas dan tegas dapat diketahui keshahihannya, kaum muslimin perlu merasa bersyukur karena Sunan Bonang-lah yang paling representatif mewakili ajaran para wali yang lain, sehingga dengan mengetahui ajarannya itu kita akan dapat mengetahui ajaran para Walisongo. Hal ini didukung dengan beberapa alasan :
Pertama, Sunan Bonang secara resmi sangat berkompeten di antara Walisongo untuk memberikan wejangan keilmuan dan keagamaan, sesuai dengan gelar yang disandangnya, Prabu Hanyakrawati, yang berkuasa dalam soal-soal sesuluking ngelmi lan agami.
Kedua, Sunan Bonang adalah putra sekaligus murid Sunan Ampel bersama-sama dengan Sunan Drajat, dan teman satu almamater dengan Sunan Giri karena sama-sama berguru kepada Sekh Maulana Ishak di Pasai. Selain itu, Sunan Bonang adalah guru pertama Sunan Kalijaga. Dengan mengetahui ajaran Sunan Bonang, maka kita dapat menggambarkan ajaran dari Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat dan Sunan Kalijaga.
Ketiga, Sunan Gunungjati adalah anak sekaligus murid Sekh Maulana Ishak, sementara Sunan Bonang dan Sunan Giri adalah satu perguruan dengan Sunan Gunungjati di Pasai, maka sedikit banyak ajaran Sunan Gunungjati dapat diketahui lewat ajaran Sunan Bonang.
Paling sedikit ada tiga buku yang menguraikan ajaran dan wejangan Sunan Bonang :
1). Buku Bonang yang ditulis oleh Sunan Bonang sendiri, dan dijadikan sebagai bahan disertasi doktor oleh DR B.J.O. Schrieke dengan judul Het Boek van Bonang di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1916; 
2). Teks Primbon Abad ke-16 yang isinya mirip dengan Buku Bonang, yang tercantum dan diulas secara kebahasaan didalam Een Javaansche Geschrift uit de 16 de Eeuw, disertasi DR J.G.H. Gunning pada tahun 1881 di Universitas Leiden Belanda; 
3). Kitab Suluk Wujil yang ditulis paling sedikit oleh tiga orang murid Sunan Bonang dari hasil pencatatan mereka terhadap pelajaran yang diterima darinya, yang secara khusus menguraikan seluk-beluk ilmu tasawwuf yang berpuncak pada ajaran tentang Manunggaling kawula-Gusti, yakni suatu maqam (tingkatan spiritual) yang dicapai seorang sufi pada saat mengalami fana’, menurut pemahaman yang benar dan bukan menurut pemahaman panteistis-moneistis yang diajarkan oleh aliran Hulul dan Wahdatul Wujud.
Berbeda dengan buku pertama dan kedua di atas, buku ketiga  tersusun dalam bentuk “tembang”  (puisi jawa) yang sangat sulit dipahami oleh orang awam, dan hanya dapat dipahami / dipelajari oleh orang yang memiliki ilmu sastra dan dasar pemikiran  filsafat yang kuat.
Buku pertama dan kedua memiliki beberapa persamaan. Diantaranya sama-sama tersusun dalam bentuk “prosa” atau karangan bebas. Kitab utama yang dijadikan sebagai rujukannya adalah Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazali dan Tamhid karya Abu Syukur as-Salami, serta kitab-kitab lain susunan para ulama Ahlussunnah Waljamaah.

Sedangkan perbedaannya :
1). Dilihat dari metode penyuguhannya, buku pertama dan kedua dimaksudkan sebagai pengajaran kepada masyarakat awam yang diutarakan secara lebih populer, mudah/gampang dicerna, dan yang dibahas ialah masalah yaumiyah (aktual sehari-hari) meliputi segi-segi kehidupan orang awam dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan buku ketiga (Suluk Wujil) dipersiapkan sebagai bahan pengajaran bagi orang-orang khusus yang diutarakan lebih bersifat filosofis dan mistis, yang hanya mudah dipahami dan ditangkap oleh orang tertentu yang memiliki pengetahuan dan pemahaman dasar yang dipersiapkan untuk mendalami ilmu keagamaan lebih lanjut. 
2) Dilihat dari segi materinya, buku pertama secara khusus menguraikan tentang hal ihwal ajaran tauhid dan tasawwuf yang diuraikan secara runtut dan teratur. Buku kedua lebih bersifat kumpulan karangan (Primbon) atau bunga rampai dari berbagai persoalan dan ilmu yang meliputi tauhid, tasawwuf, akhlak, fiqih, tafsir, hadis, tarikh (sejarah Nabi dan orang shaleh), doa-doa, pengobatan, takbir mimpi dan prediksi, serta persoalan harian lainnya.  Sedangkan Buku Ketiga secara khusus menguraikan pelajaran Tasawwuf tingkat tinggi (Ma’rifat)
Untuk selanjutnya, akan diuraikan pokok-pokok wejangan dan ajaran Sunan Bonang yang disarikan dari buku pertama (“Buku Bonang”). Karena buku inilah yang secara khusus membahas persoalan tasawwuf dan tauhid secara teratur. Disamping bahwa buku pertama ini tidak diragukan keshahihannya sebagai tulisan Sunan Bonang sendiri oleh para peneliti dan ahli sejarah.

BUKU  BONANG
Didalam Buku Bonang disebutkan beberapa kitab yang diperkirakan dijadikan sumber pengambilannya, seperti kitab Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazali; Tamhid (fi Bayanit-Tauhid wa Hidayati li kulli Mustarasyid wa Rasyid) karya Abu Syakur al-Hanafi as-Salami; Talkhis al-Minhaj karya imam an-Nawawi; Quthbul Qulub karya Abu Thalib al-Makky; dan Ar-Risalah al-Makkiyyah fi Thariq as-Sadat as-Shufiyyah karya Afifuddin at-Tamimi. Juga disebutkan beberapa nama ulama seperti Abu Yazid al-Busthami, Muhyiddin ibnu Arabi, Sekh Ibrahim ‘Arki (mungkin al-‘Iraqi), Sekh Semangu ‘Asarani, Sekh Abdul Qadir al-Jailani, dan lain-lain.
Buku Bonang menitikberatkan pada ajaran ushul suluk, sebagai gabungan antara ajaran Ushuluddin dan Tasawwuf menurut faham Ahlussunnah waljamaah, yang berkisar pada tiga pokok masalah, yakni Ajaran tentang Allah yang meliputi Dzat, Sifat dan Af’al-Nya; masalah  manusia dan Allah; masalah Ru’yat Allah; dan  ditambah satu tanbih, sebagai peringatan agar berbuat saleh, takwa, serta berpegang teguh dan menjaga batas syariat.


1. Ajaran Tentang Allah.
Ajaran Sunan Bonang mengenai Dzat, Sifat dan Af’al Allah merupakan ringkasan dan terjemahan bebas Sunan Bonang dari kitab Ihya’ Ulumiddin-nya Al-Ghazali dan kitab Tamhid-nya Abu Syukur as-Salami. Dengan kata lain, apa yang diajarkan oleh kedua kitab tersebut adalah sama dengan yang diajarkan oleh Sunan Bonang. Dia mengatakan, “Sesungguhnya adanya Allah itu bersifat tunggal, langgeng, mahasuci, dan itu bukan sesuatu yang lain daripada ada-Nya yang bukan material, yang pada awal mula memberikan “ada” kepada segala sesuatu. Sesung-guhnya Ia tidak termasuk alam kebendaan, tidak menjiwai dan tidak dijiwai, tidak berbaur dengan makhluk ciptaan-Nya, karena Ia Ada sebelum segala sesuatu dan bersifat langgeng dan mahasuci. Sifat-Nya yang lepas dari keben-daan meliputi segala sesuatu, sempurna, elok, mahamulia, mahatinggi, dan mahaluhur. Mengenai hakekat-Nya, tak seorang pun tahu akan sifat-Nya yang lepas dari kebenda-an. Hanya Ia sendiri yang mengetahui akan jiwa-Nya”.
Selain itu, Sunan Bonang menjelaskan duabelas faham pemikiran tentang ketuhanan yang dinilai sebagai aliran sesat yang disebunya sebagai wong sasar (sesat), kufur, kafir, kufur ing patang madzhab (kufur menurut standar empat madzhab). Diantara pemikiran mereka yang sesat itu adalah : 1) Dzat Allah adalah kekosongan itu sen-diri;  2) Yang Ada ini adalah Allah dan yang Tiada itupun juga Allah, dalam pengertian bahwa tiada-Nya ialah ketika Dia tidak menciptakan;  3) Nama Allah itu KehendakNya, Nama-Nya itu Dzatnya; jadi, Dzat-Nya adalah Kehendak-Nya. Ketiga ajaran yang dirumuskan dari pemikiran Abdul Wahid ibn al-Makkiyyah ini dapat mengacaukan pemaha-man umat Islam, dan bahkan menunjukkan ketidaktahuan-nya tentang Keesaan Allah.  4) Pemikiran kaum batiniyah yang mengatakan bahwa semua makhluk adalah sifat Tuhan;  5) pemikiran bahwa didalam keadaan fana’ akan terjadi ittihad (persatuan, manunggal) antara hamba dan Tuhan, sebagaimana bersatunya air sungai di muara dengan air laut. Pemahaman seperti ini merupakan penak-wilan yang menyimpang dan sesat;  6) Paham karamiyah;  7) Paham menyamaratakan antara Dzat, Sifat dan Asma’, yang mengatakan bahwa Sifat itu ada didalam Dzat, dan Asma’ itu ada didalam Dirinya sendiri;  8) Paham yang menyatakan bahwa sifat dan dzat merupakan dua keadaan yang berdiri sendiri;  9) Paham Mu’tazilah yang mengingkari adanya Qudrat dan Iradat Allah atas manusia;  10) Paham Ibnu Arabi, mengembangkan faham Wahdatul Wujud. Diantara fahamnya, Allah itu Qadim, sedangkan Sifat dan Af’al-Nya adalah baru. Pandangan ini menisbah-kan Allah dengan makhluk seperti bersandarnya peralatan dari besi yang dapat dilebur menjadi besi lagi;  11) Paham yang mengingkari arti bercermin diri itu dapat menjadi wasilah untuk makrifat kepada Allah;  12) Paham yang menyatakan bahwa Tuhan itu ma’dum min nafsihi (kekosongan/tiada dari diri-Nya sendiri).

2. Masalah manusia dan Allah.
Ajaran ini bertolak pada rumusan Padudoning kawula-Gusti (ke-bukan-an hamba-Tuhan). Dengan rumusan ini, Sunan Bonang beru-saha menjaga dua asas utama dalam akidah. Pertama asas tauhid, yakni pengakuan tentang Allah sebagai Khalik Yang Esa, Mandiri, Pribadi yang penuh dengan kebebasan dan kekuasaan.  Kedua : asas Hurriyyah asy-Syahshiyyah al-Insaniyyah (asas kemerdekaan pribadi manusia), yakni  pengakuan adanya hak kemerdekaan bagi manusia sebagai oknum yang mandiri dan pribadi yang utuh.
Dengan dua asas tersebut, Sunan Bonang ingin menunjukkan bahwa Allah dan manusia merupakan dua wujud kenyataan yang berlainan sama sekali. Demikian juga sifat Tuhan bukanlah sifat makhluk dan sifat makhluk bukan sifat Tuhan. Masing-masing berdiri sendiri-sendiri sebagai dua oknum/pribadi yang berbeda dan tak mungkin lebur menjadi satu kesatuan wujud, sebagaimana leburnya air hujan kedalam air laut, bagaimana pun tingkat kedeka-tan dan keakraban yang mungkin dicapai keduanya pada saat terjadi  fana’.  Betapa keliru dan sesatnya faham Hulul yang berpandangan : dalam maqam fana’ , dzat makhluk lebur jadi satu kesatuan kedalam Dzat Tuhan, sehingga merupakan satu adonan bagaikan adonan gelepung.
Dengan berpedoman pada ayat 19-20 QS ar-Rahman [55], “Marajal Bahraini yaltaqiyani bainahuma barzakhun la yabghiyan” (Dia membiarkan dua lautan mengalir. Kedua-nya lalu bertemu. Antara keduanya ada batas [“barzakh”] yang tidak dilampaui oleh masing-masing), maka Sunan Bonang mampu memahami persoalan fana’ dengan pema-haman yang sebenarnya. Dengan kata lain, pada saat mengalami fana’, seorang sufi merasa bersatu dengan Tuhan. Meskipun merasa bersatu, tetapi bukan dalam pengertian persatuan yang sebenarnya, karena diantara kedua Wujud tersebut tetap ada “barzakh” atau dinding pembatas, sehingga keduanya tidak akan dapat bercam-pur menjadi satu kesatuan. Itulah hakekat Manunggaling kawula-Gusti menurut pemahaman Sunan Bonang.

3. Masalah Ru’yat (Melihat Tuhan).
Yang dimaksudkannya adalah “melihat” tetapi tidak melihat (rukyat Allah: arus tan arus).
Kata Sunan Bonang : ”ee Rijal! Tegesing rukyat iku : Aningali ing Pangeran ing akhirat lan mata kepala, ing dunya lan mata ati” (Wahai Rijal ! Arti rukyat itu adalah melihat Tuhan, di akhirat dengan mata kepala, dan di dunia dengan mata hati).
Maksudnya, manusia dapat melihat Tuhan dengan mata kepala atau dalam keadaan yang sebebarnya adalah pada saat di akhirat (surga) nanti. Sedangkan selama hidup di dunia, manusia hanya dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya, bukan dengan mata kepalanya.
Mampu-tidaknya seseorang melihat Tuhan tergantung pada kesempurnaan martabat (spiritual) yang bisa dicapainya dalam usahanya menempuh suluk atau tarekat. Semakin rendah martabat seseorang, maka semakin banyak penghalang untuk sampai pada rukyat, dan semakin tinggi martabatnya maka semakin berkurang penghalangnya sehingga pada akhirnya Allah menyempurnakan penglihatannya untuk mampu melihat Dzat, Sifat dan Af’al-Nya dengan mata hatinya.

Tanbih. Selain dipakai sebagai penutup buku, Tanbih juga dimaksudkan sebagai peringatan dan harapan agar seseorang selalu berbuat saleh dan takwa. Seorang muslim seyogyanya melaksanakan semua perbuatan lahir dan batin menurut tuntunan syariat Rasulullah saw, mencintai dan mengambil teladan dari Rasulullah saw sebagai wujud terima kasihnya atas anugerah Allah.
Sunan Bonang selanjutnya berpesan, bahwa itulah peninggalannya yang perlu kita amalkan dan ajarkan kepada anak cucu, jangan sampai kita menyeleweng dan salah jalan mengikuti ajaran orang sesat. Sebaliknya, hendaknya kita hanya takut kepada Allah, agar tujuan kita tercapai dan amal ibadah kita diterima oleh Allah swt.
Dengan wejangan di atas, kita ditunjukkan bahwa Sunan Bonang benar-benar menggolongkan dirinya sebagai penganut aliran Ahlussunnah Waljamaah. Selain mengutamakan persoalan batin seperti tasawwuf (mistik Islam) dan akhlak, dia juga tidak melalaikan persoalan lahir seperti syariat (fiqh dan tauhid).


Sumber bacaan :
1. Mengislamkan Tanah Jawa : Telaah atas metode dakwah Walisongo, oleh Drs Wiji Saksono, Mizan Bandung, cet.I, 1995
2.  Kitab Kuning : Pesantren dan Tarekat, Tradisi-tradisi Islam di Indonesa, oleh Martin van Bruinessen, Mizan Bandung, cet.I, 1995
3.  Ensiklopedi Islam, jilid 2 dan 5, PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, cet.X, ‏‏2002
4.  Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah, HMH Al-Hamid al-Husaini,  Yayasan Al-Hamidy, Jakarta, cet II, 1997
5.  Sekitar Walisongo, dan Sunan Kudus, Solichin Salam, Menara Kudus, tt
6.  Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria, Umar Hasyim, Menara Kudus, tt
7.  Ajaran Rahasia Sunan Bonang “Manunggaling Kawula-Gusti” : Kajian Tentang Konsepsi Ketuhanan dalam Ajaran Suluk Wujil, (Naskah/Skripsi), Aba Thabiba Elvina