Jama'ah Pengajian "ذِكْرُ الْمَوْت"

Thursday, 27 April 2017

AJARAN-AJARAN POKOK WALISONGO - [ZW 8]






KH Raden Abdullah bin Nuh mengatakan didalam bukunya, Walisongo, bahwa kesembilan Wali tersebut mengajarkan agama Islam secara murni, bermadzhab syafii dan beraliran Ahlussunnah Waljamaah. Sedangkan Drs Wiji Saksono dalam bukunya, Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo, menga-takan, bahwa dari kesembilan Walisongo tersebut, hanya Sunan Bonang yang hingga kini dapat diketahui dengan jelas pokok-pokok ajarannya dan dapat dijadikan sebagai pegangan atau sumber rujukan. Sementara ajaran Walisongo yang lain dinilai masih sangat samar dan belum terungkapkan. Banyak sekali orang yang berusaha mengungkap ajaran mereka melalui kisah-kisah, sebagaimana yang tertulis didalam buku-buku babad dan tersiar dari mulut ke mulut, akan tetapi masih belum dapat dipandang sebagai fakta sejarah dalam pengertian yang sebenarnya.
Meski hanya ajaran dan wejangan Sunan Bonang saja yang telah jelas dan tegas dapat diketahui keshahihannya, kaum muslimin perlu merasa bersyukur karena Sunan Bonang-lah yang paling representatif mewakili ajaran para wali yang lain, sehingga dengan mengetahui ajarannya itu kita akan dapat mengetahui ajaran para Walisongo. Hal ini didukung dengan beberapa alasan :
Pertama, Sunan Bonang secara resmi sangat berkompeten di antara Walisongo untuk memberikan wejangan keilmuan dan keagamaan, sesuai dengan gelar yang disandangnya, Prabu Hanyakrawati, yang berkuasa dalam soal-soal sesuluking ngelmi lan agami.
Kedua, Sunan Bonang adalah putra sekaligus murid Sunan Ampel bersama-sama dengan Sunan Drajat, dan teman satu almamater dengan Sunan Giri karena sama-sama berguru kepada Sekh Maulana Ishak di Pasai. Selain itu, Sunan Bonang adalah guru pertama Sunan Kalijaga. Dengan mengetahui ajaran Sunan Bonang, maka kita dapat menggambarkan ajaran dari Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat dan Sunan Kalijaga.
Ketiga, Sunan Gunungjati adalah anak sekaligus murid Sekh Maulana Ishak, sementara Sunan Bonang dan Sunan Giri adalah satu perguruan dengan Sunan Gunungjati di Pasai, maka sedikit banyak ajaran Sunan Gunungjati dapat diketahui lewat ajaran Sunan Bonang.
Paling sedikit ada tiga buku yang menguraikan ajaran dan wejangan Sunan Bonang :
1). Buku Bonang yang ditulis oleh Sunan Bonang sendiri, dan dijadikan sebagai bahan disertasi doktor oleh DR B.J.O. Schrieke dengan judul Het Boek van Bonang di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1916; 
2). Teks Primbon Abad ke-16 yang isinya mirip dengan Buku Bonang, yang tercantum dan diulas secara kebahasaan didalam Een Javaansche Geschrift uit de 16 de Eeuw, disertasi DR J.G.H. Gunning pada tahun 1881 di Universitas Leiden Belanda; 
3). Kitab Suluk Wujil yang ditulis paling sedikit oleh tiga orang murid Sunan Bonang dari hasil pencatatan mereka terhadap pelajaran yang diterima darinya, yang secara khusus menguraikan seluk-beluk ilmu tasawwuf yang berpuncak pada ajaran tentang Manunggaling kawula-Gusti, yakni suatu maqam (tingkatan spiritual) yang dicapai seorang sufi pada saat mengalami fana’, menurut pemahaman yang benar dan bukan menurut pemahaman panteistis-moneistis yang diajarkan oleh aliran Hulul dan Wahdatul Wujud.
Berbeda dengan buku pertama dan kedua di atas, buku ketiga  tersusun dalam bentuk “tembang”  (puisi jawa) yang sangat sulit dipahami oleh orang awam, dan hanya dapat dipahami / dipelajari oleh orang yang memiliki ilmu sastra dan dasar pemikiran  filsafat yang kuat.
Buku pertama dan kedua memiliki beberapa persamaan. Diantaranya sama-sama tersusun dalam bentuk “prosa” atau karangan bebas. Kitab utama yang dijadikan sebagai rujukannya adalah Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazali dan Tamhid karya Abu Syukur as-Salami, serta kitab-kitab lain susunan para ulama Ahlussunnah Waljamaah.

Sedangkan perbedaannya :
1). Dilihat dari metode penyuguhannya, buku pertama dan kedua dimaksudkan sebagai pengajaran kepada masyarakat awam yang diutarakan secara lebih populer, mudah/gampang dicerna, dan yang dibahas ialah masalah yaumiyah (aktual sehari-hari) meliputi segi-segi kehidupan orang awam dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan buku ketiga (Suluk Wujil) dipersiapkan sebagai bahan pengajaran bagi orang-orang khusus yang diutarakan lebih bersifat filosofis dan mistis, yang hanya mudah dipahami dan ditangkap oleh orang tertentu yang memiliki pengetahuan dan pemahaman dasar yang dipersiapkan untuk mendalami ilmu keagamaan lebih lanjut. 
2) Dilihat dari segi materinya, buku pertama secara khusus menguraikan tentang hal ihwal ajaran tauhid dan tasawwuf yang diuraikan secara runtut dan teratur. Buku kedua lebih bersifat kumpulan karangan (Primbon) atau bunga rampai dari berbagai persoalan dan ilmu yang meliputi tauhid, tasawwuf, akhlak, fiqih, tafsir, hadis, tarikh (sejarah Nabi dan orang shaleh), doa-doa, pengobatan, takbir mimpi dan prediksi, serta persoalan harian lainnya.  Sedangkan Buku Ketiga secara khusus menguraikan pelajaran Tasawwuf tingkat tinggi (Ma’rifat)
Untuk selanjutnya, akan diuraikan pokok-pokok wejangan dan ajaran Sunan Bonang yang disarikan dari buku pertama (“Buku Bonang”). Karena buku inilah yang secara khusus membahas persoalan tasawwuf dan tauhid secara teratur. Disamping bahwa buku pertama ini tidak diragukan keshahihannya sebagai tulisan Sunan Bonang sendiri oleh para peneliti dan ahli sejarah.

BUKU  BONANG
Didalam Buku Bonang disebutkan beberapa kitab yang diperkirakan dijadikan sumber pengambilannya, seperti kitab Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazali; Tamhid (fi Bayanit-Tauhid wa Hidayati li kulli Mustarasyid wa Rasyid) karya Abu Syakur al-Hanafi as-Salami; Talkhis al-Minhaj karya imam an-Nawawi; Quthbul Qulub karya Abu Thalib al-Makky; dan Ar-Risalah al-Makkiyyah fi Thariq as-Sadat as-Shufiyyah karya Afifuddin at-Tamimi. Juga disebutkan beberapa nama ulama seperti Abu Yazid al-Busthami, Muhyiddin ibnu Arabi, Sekh Ibrahim ‘Arki (mungkin al-‘Iraqi), Sekh Semangu ‘Asarani, Sekh Abdul Qadir al-Jailani, dan lain-lain.
Buku Bonang menitikberatkan pada ajaran ushul suluk, sebagai gabungan antara ajaran Ushuluddin dan Tasawwuf menurut faham Ahlussunnah waljamaah, yang berkisar pada tiga pokok masalah, yakni Ajaran tentang Allah yang meliputi Dzat, Sifat dan Af’al-Nya; masalah  manusia dan Allah; masalah Ru’yat Allah; dan  ditambah satu tanbih, sebagai peringatan agar berbuat saleh, takwa, serta berpegang teguh dan menjaga batas syariat.


1. Ajaran Tentang Allah.
Ajaran Sunan Bonang mengenai Dzat, Sifat dan Af’al Allah merupakan ringkasan dan terjemahan bebas Sunan Bonang dari kitab Ihya’ Ulumiddin-nya Al-Ghazali dan kitab Tamhid-nya Abu Syukur as-Salami. Dengan kata lain, apa yang diajarkan oleh kedua kitab tersebut adalah sama dengan yang diajarkan oleh Sunan Bonang. Dia mengatakan, “Sesungguhnya adanya Allah itu bersifat tunggal, langgeng, mahasuci, dan itu bukan sesuatu yang lain daripada ada-Nya yang bukan material, yang pada awal mula memberikan “ada” kepada segala sesuatu. Sesung-guhnya Ia tidak termasuk alam kebendaan, tidak menjiwai dan tidak dijiwai, tidak berbaur dengan makhluk ciptaan-Nya, karena Ia Ada sebelum segala sesuatu dan bersifat langgeng dan mahasuci. Sifat-Nya yang lepas dari keben-daan meliputi segala sesuatu, sempurna, elok, mahamulia, mahatinggi, dan mahaluhur. Mengenai hakekat-Nya, tak seorang pun tahu akan sifat-Nya yang lepas dari kebenda-an. Hanya Ia sendiri yang mengetahui akan jiwa-Nya”.
Selain itu, Sunan Bonang menjelaskan duabelas faham pemikiran tentang ketuhanan yang dinilai sebagai aliran sesat yang disebunya sebagai wong sasar (sesat), kufur, kafir, kufur ing patang madzhab (kufur menurut standar empat madzhab). Diantara pemikiran mereka yang sesat itu adalah : 1) Dzat Allah adalah kekosongan itu sen-diri;  2) Yang Ada ini adalah Allah dan yang Tiada itupun juga Allah, dalam pengertian bahwa tiada-Nya ialah ketika Dia tidak menciptakan;  3) Nama Allah itu KehendakNya, Nama-Nya itu Dzatnya; jadi, Dzat-Nya adalah Kehendak-Nya. Ketiga ajaran yang dirumuskan dari pemikiran Abdul Wahid ibn al-Makkiyyah ini dapat mengacaukan pemaha-man umat Islam, dan bahkan menunjukkan ketidaktahuan-nya tentang Keesaan Allah.  4) Pemikiran kaum batiniyah yang mengatakan bahwa semua makhluk adalah sifat Tuhan;  5) pemikiran bahwa didalam keadaan fana’ akan terjadi ittihad (persatuan, manunggal) antara hamba dan Tuhan, sebagaimana bersatunya air sungai di muara dengan air laut. Pemahaman seperti ini merupakan penak-wilan yang menyimpang dan sesat;  6) Paham karamiyah;  7) Paham menyamaratakan antara Dzat, Sifat dan Asma’, yang mengatakan bahwa Sifat itu ada didalam Dzat, dan Asma’ itu ada didalam Dirinya sendiri;  8) Paham yang menyatakan bahwa sifat dan dzat merupakan dua keadaan yang berdiri sendiri;  9) Paham Mu’tazilah yang mengingkari adanya Qudrat dan Iradat Allah atas manusia;  10) Paham Ibnu Arabi, mengembangkan faham Wahdatul Wujud. Diantara fahamnya, Allah itu Qadim, sedangkan Sifat dan Af’al-Nya adalah baru. Pandangan ini menisbah-kan Allah dengan makhluk seperti bersandarnya peralatan dari besi yang dapat dilebur menjadi besi lagi;  11) Paham yang mengingkari arti bercermin diri itu dapat menjadi wasilah untuk makrifat kepada Allah;  12) Paham yang menyatakan bahwa Tuhan itu ma’dum min nafsihi (kekosongan/tiada dari diri-Nya sendiri).

2. Masalah manusia dan Allah.
Ajaran ini bertolak pada rumusan Padudoning kawula-Gusti (ke-bukan-an hamba-Tuhan). Dengan rumusan ini, Sunan Bonang beru-saha menjaga dua asas utama dalam akidah. Pertama asas tauhid, yakni pengakuan tentang Allah sebagai Khalik Yang Esa, Mandiri, Pribadi yang penuh dengan kebebasan dan kekuasaan.  Kedua : asas Hurriyyah asy-Syahshiyyah al-Insaniyyah (asas kemerdekaan pribadi manusia), yakni  pengakuan adanya hak kemerdekaan bagi manusia sebagai oknum yang mandiri dan pribadi yang utuh.
Dengan dua asas tersebut, Sunan Bonang ingin menunjukkan bahwa Allah dan manusia merupakan dua wujud kenyataan yang berlainan sama sekali. Demikian juga sifat Tuhan bukanlah sifat makhluk dan sifat makhluk bukan sifat Tuhan. Masing-masing berdiri sendiri-sendiri sebagai dua oknum/pribadi yang berbeda dan tak mungkin lebur menjadi satu kesatuan wujud, sebagaimana leburnya air hujan kedalam air laut, bagaimana pun tingkat kedeka-tan dan keakraban yang mungkin dicapai keduanya pada saat terjadi  fana’.  Betapa keliru dan sesatnya faham Hulul yang berpandangan : dalam maqam fana’ , dzat makhluk lebur jadi satu kesatuan kedalam Dzat Tuhan, sehingga merupakan satu adonan bagaikan adonan gelepung.
Dengan berpedoman pada ayat 19-20 QS ar-Rahman [55], “Marajal Bahraini yaltaqiyani bainahuma barzakhun la yabghiyan” (Dia membiarkan dua lautan mengalir. Kedua-nya lalu bertemu. Antara keduanya ada batas [“barzakh”] yang tidak dilampaui oleh masing-masing), maka Sunan Bonang mampu memahami persoalan fana’ dengan pema-haman yang sebenarnya. Dengan kata lain, pada saat mengalami fana’, seorang sufi merasa bersatu dengan Tuhan. Meskipun merasa bersatu, tetapi bukan dalam pengertian persatuan yang sebenarnya, karena diantara kedua Wujud tersebut tetap ada “barzakh” atau dinding pembatas, sehingga keduanya tidak akan dapat bercam-pur menjadi satu kesatuan. Itulah hakekat Manunggaling kawula-Gusti menurut pemahaman Sunan Bonang.

3. Masalah Ru’yat (Melihat Tuhan).
Yang dimaksudkannya adalah “melihat” tetapi tidak melihat (rukyat Allah: arus tan arus).
Kata Sunan Bonang : ”ee Rijal! Tegesing rukyat iku : Aningali ing Pangeran ing akhirat lan mata kepala, ing dunya lan mata ati” (Wahai Rijal ! Arti rukyat itu adalah melihat Tuhan, di akhirat dengan mata kepala, dan di dunia dengan mata hati).
Maksudnya, manusia dapat melihat Tuhan dengan mata kepala atau dalam keadaan yang sebebarnya adalah pada saat di akhirat (surga) nanti. Sedangkan selama hidup di dunia, manusia hanya dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya, bukan dengan mata kepalanya.
Mampu-tidaknya seseorang melihat Tuhan tergantung pada kesempurnaan martabat (spiritual) yang bisa dicapainya dalam usahanya menempuh suluk atau tarekat. Semakin rendah martabat seseorang, maka semakin banyak penghalang untuk sampai pada rukyat, dan semakin tinggi martabatnya maka semakin berkurang penghalangnya sehingga pada akhirnya Allah menyempurnakan penglihatannya untuk mampu melihat Dzat, Sifat dan Af’al-Nya dengan mata hatinya.

Tanbih. Selain dipakai sebagai penutup buku, Tanbih juga dimaksudkan sebagai peringatan dan harapan agar seseorang selalu berbuat saleh dan takwa. Seorang muslim seyogyanya melaksanakan semua perbuatan lahir dan batin menurut tuntunan syariat Rasulullah saw, mencintai dan mengambil teladan dari Rasulullah saw sebagai wujud terima kasihnya atas anugerah Allah.
Sunan Bonang selanjutnya berpesan, bahwa itulah peninggalannya yang perlu kita amalkan dan ajarkan kepada anak cucu, jangan sampai kita menyeleweng dan salah jalan mengikuti ajaran orang sesat. Sebaliknya, hendaknya kita hanya takut kepada Allah, agar tujuan kita tercapai dan amal ibadah kita diterima oleh Allah swt.
Dengan wejangan di atas, kita ditunjukkan bahwa Sunan Bonang benar-benar menggolongkan dirinya sebagai penganut aliran Ahlussunnah Waljamaah. Selain mengutamakan persoalan batin seperti tasawwuf (mistik Islam) dan akhlak, dia juga tidak melalaikan persoalan lahir seperti syariat (fiqh dan tauhid).


Sumber bacaan :
1. Mengislamkan Tanah Jawa : Telaah atas metode dakwah Walisongo, oleh Drs Wiji Saksono, Mizan Bandung, cet.I, 1995
2.  Kitab Kuning : Pesantren dan Tarekat, Tradisi-tradisi Islam di Indonesa, oleh Martin van Bruinessen, Mizan Bandung, cet.I, 1995
3.  Ensiklopedi Islam, jilid 2 dan 5, PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, cet.X, ‏‏2002
4.  Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah, HMH Al-Hamid al-Husaini,  Yayasan Al-Hamidy, Jakarta, cet II, 1997
5.  Sekitar Walisongo, dan Sunan Kudus, Solichin Salam, Menara Kudus, tt
6.  Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria, Umar Hasyim, Menara Kudus, tt
7.  Ajaran Rahasia Sunan Bonang “Manunggaling Kawula-Gusti” : Kajian Tentang Konsepsi Ketuhanan dalam Ajaran Suluk Wujil, (Naskah/Skripsi), Aba Thabiba Elvina



MENSURITELADANI PERJUANGAN WALISONGO - [ZW 7]


Sejarah singkat perjuangan Walisongo Terpopuler di Jawa, untuk dapat kita ambil i'tibar dan pelajaran berharga dari sepak terjangnnya dalam berdakwah mengislamkan Tanah Jawa, sebagai berikut



1. MAULANA  MALIK  IBRAHIM

Maulana Malik Ibrahim diyakini sebagai pelopor penyebaran Islam di Jawa dan menempati urutan pertama dalam Walisongo. Kitab Walisana menyebutnya sebagai : mula-mula tetalering Waliyullah, nenek moyang para Wali di Jawa. Para ahli sejarah tidak sepakat mengenai asal usul, tempat dan tahun kelahirannya. Ia diperkirakan lahir sekitar pertengahan abad 14, kira-kira tahun 1350 M.
Ada yang berpendapat bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Gujarat India  yang sengaja datang ke Jawa Timur untuk berdakwah, dengan alasan bahwa nisan makamnya buatan Gujarat.
Menurut Sumber yang lain, ia berasal dari Persia, lalu  menikah dengan saudari Raja Cermin. Pendapat ini pun tidak memiliki dasar yang kuat, dan sampai sekarang tidak dapat dipastikan dimana negeri Cermin berada. Hanya saja Stamford Raffles, penulis buku History of Java, mengatakan, bahwa negeri Cermin terletak di Hindustan, sementara yang lain mengatakan terletak di Indonesia.
Bahkan ada yang berpendapat, ia berasal dari Maghribi (Maroko) Afrika Utara, atas dasar bahwa masyarakat mengenalnya dengan julukan Syekh Maghribi atau Maulana Maghribi. Namun kurang kuat dasarnya.
Sumber lain menyebutkan, ia berasal dari arab dan nasabnya bertalian dengan golongan “Sayyid”,  keluarga Alawiyin dari Hadhramaut, keturunan Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali. Menurut sumber ini, ia adalah putra Barakat Zainul Alam bin  Jamaluddin al-Husaini bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Abdullah bin Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhy bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abadin bin Husain bin Ali, suami Fathimah az-Zahra binti Rasulullah Saw Thalib, suami Fathimah binti Rasulillah Saw.
Maulana Malik sejak kecil sudah belajar ilmu agama Islam kepada keluarganya (Alawiyyin) yang taat beragama. Hanya tidak ada keterangan tentang siapa dan darimana saja gurunya, sehingga  ia menjadi seorang ulama besar  
Dalam berbagai literatur, kedatangan Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur (Gresik) dicatat sebagai permulaan Islam di Jawa, khususnya Gresik, sehingga ia dipandang sebagai orang yang mula-mula memasukkan Islam  dan sebagai pendiri Pesantren pertama di Jawa. Namun, jika diperhatikan dari batu bertulis pada nisan makam Fatimah binti Maimun (“Kubur Panjang”) di desa Leran Manyar Gresik yang wafat pada tahun 475 H/1082 M, maka dapat disimpulkan, bahwa pada tiga abad sebelumnya, Islam sudah masuk ke Jawa, khususnya daerah pesisir Gresik. Dengan demikian, kedatangan Maulana Malik Ibrahim adalah dalam rangka membina masyarakat muslim yang sudah ada, di samping menyebarkan Islam kepada masyarakat Gresik yang pada umumnya  beragama Hindu-Budha. Akhlaknya yang mulia dan kepribadiannya yang menarik merupakan faktor yang membantu kelancaran dakwahnya. Sehingga makin banyak dari penduduk yang menjadi muslim. Setelah itu, didirikanlah semacam pesantren  untuk membina dan menyiapkan kader-kader penerus dakwahnya.
Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 882 H/1419 M, berdasarkan tulisan pada nisan makamnya yang berada di desa Gapura Gresik.



2. SUNAN  AMPEL

 Sunan Ampel adalah julukan dari Raden Ahmad Rahmatullah atau Raden Rahmat. Ia lahir di negeri Campa sekitar tahun 1401 M dan wafat di Ampel Surabaya pada tahun 1481 M. Mengenai Negeri Campa sendiri, menurut C. Raffles, berada di “Jeumpa” Aceh. Dan berdasarkan prasasti Po Sah  dan Buku Encyclopaedia van Nederlandche Indie, Campa berada di Hindia Belakang, yakni kawasan kecil Kamboja Timur di teluk Siam.
Ayahnya bernama Ibrahim Asmarakandi (berasal dari negeri di Asia Tengah “Samarkand”. Makamnya di desa Nggesik Tuban), anak dari Jamaluddin al-Husain bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Abdullah bin Al-Muhajir bin Isa … dan seterusnya hingga berpuncak pada Ali bin Abi Thalib, suami Fathimah binti Rasulillah Saw.  Sedangkan Ibunya bernama Dewi Candrawulan, putri kedua Raja Campa, adik dari Dewi Sasmitapuri, permaisuri Raja Majapahit Prabu Kertawijaya atau Brawijaya I (1447-1451 M).
Dengan demikian, dari jalur ayahnya, ia adalah masih keponakan dari Maulana Malik Ibrahim. Sedangkan dari jalur ibunya, ia adalah keponakan Prabu Kertawijaya (Brawijaya I).
Raden Rahmat di masa kecilnya mendapatkan didikan agama dari ayahnya. Setelah  dewasa, menurut cerita babad dan diperkuat oleh kitab Walisana karya Sunan Giri II, ia bersama-sama dengan kakaknya yang bernama Raden Santri (Sayyid Ali Mutadha, alias Sunan Gresik) dan  Raden Alim Abu Hurairah (Sunan Majagung), anak pamannya, ingin sekali mengunjungi uwak mereka di Majapahit. Setelah beberapa lama di Jawa, mereka bertiga ingin kembali ke Campa, namun terdengar berita bahwa negeri Campa hancur diserang Raja Koci. Karena itu, Prabu Brawijaya I menasehatinya agar menetap di Tanah Jawa. Mereka menyetujuinya, lantas mereka diserahkan kepada Arya Lembusura, Adipati Majapahit yang muslim, untuk diasuh. Setelah sampai masa berkeluarga, Prabu Brawijaya I mengawinkan mereka dengan tiga orang putri Arya Teja III, yang saat itu menjadi Adipatinya di Tuban. Tentang perkawinannya ini, DR B.J.O. Schrieke menyatakan, bahwa peristiwanya tidak lebih awal dari tahun 1450 M.
Selanjutnya Prabu Brawijaya I memberikan kepada mereka tanah peprenah atau tempat kedudukan untuk menjadi imam di daerah tersebut.. Raden Rahmat memperoleh wilayah di Ampel Denta (Surabaya) yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Ampel. Raden Santri di wilayah Gresik yang kemudian bergelar Raja Pandita Gung Ali Murtala (Makamnya di utara alun-alun kota Gresik). Sedangkan Raden Alim Abu Hurairah di Majagung, yang terkenal sebagai Sunan Majagung.
Menurut buku Tarikhul Awliya’, tulisan KH Bisri Musthafa, dari hasil perkawinannya dengan putri Arya Teja III yang bernama Nyai Ageng Manila, Raden Rahmat memperoleh anak : 1) Siti Syari’ah,  2) Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang),  3) Syarifuddin (Sunan Drajat), dan 4) Siti Khafshah, yang di kemudian hari diperisteri Sunan Kalijaga, dan menurut satu riwayat ia diperisteri Sayyid Ahmad dari Yaman, sementara Sunan Kalijaga dinikahkan dengan Siti Muthmainnah; dan  5) Siti Muthmainnah, isteri Sunan Wilis Cirebon (menurut riwayat lain, isteri Sunan Kalijaga).  Sedangkan perkawinannya dengan isteri kedua yang bernama Dewi Karimah binti Ki Ageng Supo Bungkul dari Kembangkuning Surabaya, ia memperoleh anak : 1) Dewi Murthasiyah, isteri Sunan Giri;  dan  2) Dewi Murtasimah, isteri Raden Patah.
Raden Rahmat memulai aktifitas dakwahnya dengan mendirikan pondok pesantren di Ampel Denta untuk mendidik para pemuda Islam  sebagai calon muballigh yang akan disebar di daerah-daerah. Muridnya terdiri dari kalangan bangsawan dan masyarakat bawah. Di antara para muridnya adalah Raden Paku (Sunan Giri), Raden Patah, Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang, putranya sendiri), Raden Syarifuddin (Sunan Drajat, putranya sendiri).
Menurut babad Diponegoro, Sunan Ampel sangat berpengaruh di kalangan kaum ningrat dan keluarga istana Majapahit. Bahkan Raden Patah, putra Prabu Kertabumi Brawijaya V (1468-1478 M) dari isteri selirnya, menjadi murid Sunan Ampel yang kelak akan menjadi menantunya. Hal ini membuat penyebaran Islam di daerah kekuasaan Majapahit tidak mendapat hambatan yang berarti.
Sunan Ampel tercatat sebagai arsitek atau perancang kerajaan Islam Demak yang berdiri pada tahun 1479 M (Berdasarkan candrasengkala Geni Mati Siniram Jalmi, “Kezhaliman lenyap dikalahkan kebenaran”, yang berarti tahun 1401 Syaka atau 1479 M). Setelah Brawijaya V lengser akibat dari serangan Prabu Girindrawardana dari kerajaan Daha Kediri tahun 1478 M (Beradasarkan Candrasengkala Sirna Hilang Kertaning Bhumi, yang berarti tahun 1400 syaka atau 1478 masehi). Sunan Ampel lalu mengangkat Raden Patah, putra Brawijaya V, sebagai Sultan pertama Kerajaan Demak.
Selain itu, Sunan Ampel bersama-sama dengan para Wali lain ikut serta mendirikan masjid Agung Demak tahun 1477 M. Mereka melakukan pembagian tugas : Keempat tiang “Saka Guru” (tiang utama penyanggah dari kayu raksasa) dikerjakan oleh Sunan Ampel di bagian tenggara; Sunan Gunung Jati di bagian barat daya; Sunan Bonang di bagian barat laut; dan Sunan Kalijaga di bagian timur laut, berupa  tiang saka tatal (bukan berupa kayu utuh, tetapi dari beberapa pecahan kayu balok yang diikat menjadi satu). Sementara para wali lainnya diberi tugas mengerjakan bagain-bagian bangunan masjid yang lain.
Mengenai sikap dan pemikirannya tentang tradisi dan adat istiadat yang sangat kuat dipegangi masyarakat pada awal proses islamisasi di pulau Jawa, Sunan Ampel menginginkan agar masyarakat menganut keyakinan yang murni. Solichin Salam dalam bukunya Sekitar Walisongo menjelaskan, didalam permusyawaratan Walisongo, Sunan Kalijaga mengusulkan agar tradisi dan adat Jawa seperti kenduren (selamatan), sesajen dan sejenisnya,  perlu dilestarikan setelah terlebih dahulu diisi dengan nilai-nilai keislaman (aqidah islamiyah) agar tidak terjerumus kedalam kesyirikan. Sunan Ampel bertanya, “Apakah hal itu tidak mengkhawatirkan rusaknya agama Islam di kemudian hari?  Apakah tradisi semacam itu nantinya tidak dianggap oleh anak cucu kita sebagai bagian dari ajaran Islam, yang berarti menjadi Bid’ah?”. Sunan Kudus membela Sunan Kalijaga, “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga. Sebab agama Hindu-Budha memiliki beberapa kesamaan dengan islam dalam ajaran kemasyarakatan, antara lain : orang kaya wajib menolong kaum fakir miskin. Mengenai soal yang Tuan khawatirkan, saya yakin, kelak tentu ada orang Islam yang akan meluruskan dan menjelaskan duduk persoalannya”. Terdorong oleh semangat toleransi dan persatuan yang kuat, Sunan Ampel akhirnya tidak keberatan menerima usulan tersebut. Dan memang sangat berat menghapuskan tradisi dan adat istiadat lama yang sudah mendarahdaging di tengah masyarakat, tidak semudah orang membalik telapak tangan. Karenanya, diperlukan kesabaran dan tentu saja memerlukan waktu yang cukup panjang.



3. SUNAN  BONANG

Sunan Bonang yang bernama asli Raden Makhdum Ibrahim dilahirkan di Tuban (Menurut riwayat lain, ia lahir di Ampel Denta Surabaya) pada tahun 1465 M dan wafat di Tuban pada tahun 1524 M. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila binti Arya Teja III, Bupati Tuban. Silsilah nasabnya sama dengan silsilah Sunan Ampel di atas.
Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan agama dari orang tuanya bersama-sama dengan para santri lain. Setelah cukup dewasa, ia bersama-sama dengan Raden Paku (Sunan Giri) diperintah oleh Sunan Ampel untuk berangkat haji ke Makkah sambil mempelajari ilmu agama di sana. Di tengah perjalanan, keduanya singgah di Pasai Aceh untuk memperdalam ilmu agama terutama tasawwuf, kepada Syekh Maulana Ishak (saudara sepupu ayahnya) yang pernah berdakwah di kerajaan Blambangan, dan juga menjadi ayah dari Sunan Giri sendiri.  Karena kecerdasannya, Makhdum Ibrahim memperoleh ilmu yang sangat luas dan dalam, sehingga ia dijuluki Prabu Hanyakrawati yang berkuasa dalam soal-soal Sesuluking Ngelmi lan Agami. Sepulangnya dari Makkah, ia kembali lagi ke Jawa untuk mengembangkan ilmunya dan memilih desa Bonang Tuban sebagai tempat tinggalnya. Sejak saat itu ia lebih dikenal dengan sebutan Sunan Bonang.
Sunan Bonang memperistri Dewi Hirah, anak R. Jakandar dari Madura dengan Dewi Nawangsari. Dari perkawinannya ini ia memperoleh seorang putri yang bernama Dewi Ruhil, yang nantinya diperistri Sunan Kudus. (Tarikhul Awliya’, KH Bisri Musthafa).
Aktifitas Sunan Bonang diperkirakan antara tahun 1475 M sampai 1525 M. Selama kurun waktu tersebut, peranannya cukup besar, baik di bidang dakwah Islamiyah, tasawwuf, sosial kemasyarakatan, maupun kenegaraan.
Di bidang Dakwah Islamiyah, Sunan Bonang sangat bersemangat menyebarkan agama Islam di Jawa Timur, khususnya di Tuban. Di kota  ini ia mendirikan pesantren untuk membimbing para pemuda dan pemudi muslim menjadi kader-kader muballigh. Di dalam kitab Suluk Wujil yang disusun oleh tiga murid Sunan Bonang menceritakan pada bait 74-84, bahwa ia menyuruh santri putra yang bernama Wujil agar memanggil seorang santri putri bernama Satpada yang tinggal di asrama putri, untuk diajak berdialog dalam masalah pemahaman terhadap ajaran Manunggaling kawula-Gusti.
Sunan Bonang dinilai sebagai wali yang sangat berjasa dalam mengubah jalan hidup seorang penjahat kelas kakap, Raden Syahid, untuk menjadi seorang wali, yang dikemudian hari masyhur dengan julukan Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang dan para wali lainnya dalam berdakwah selalu menyesuaikann diri dengan corak kebudayaan masyarakat yang sangat menggemari wayang dan musik gamelan. Mereka memanfaatkan pertunjukan wayang sebagai media dakwah dengan menyisipkan nafas keislaman kedalamnya. Misalnya, kepercayaan terhadap para dewa sakti dalam cerita pewayangan, diganti dan diidentifikasikan sebagai para malaikat dan para Nabi. Bahkan dijelaskan, para dewa tersebut adalah keturunan Nabi Adam. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan kepercayaan kepada masyarakat yang mayoritas beragama Hindu-Budha, bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Esa, Tunggal, tidak ada duanya; sedangkan para dewa sebenarnya bukan “tuhan”, akan tetapi sekedar sebagai makhluk-Nya.
Para Wali menciptakan lagu atau tembang khas sendiri-sendiri. Misalnya, Sunan Giri menciptakan tembang  Asmaradana dan Pucung; Sunan Bonang tembang Durma; Sunan Kalijaga tembang Dandanggula; Sunan Kudus  tembang Maskumambang dan Mijil; Sunan Muria tembang Sinom dan Kinanti; dan Sunan Drajat tembang Pangkur. Syair lagu mereka berisi pesan-pesan ajaran tauhid.
Di bidang tasawwuf, barangkali Sunan Bonang merupakan satu-satunya Walisongo yang dapat diketahui secara jelas pokok-pokok ajarannya dan dapat dijadikan sebagai sumber rujukan. Paling tidak,  ajarannya tentang tasawwuf  dan ketauhidan dapat diketahui dari tiga sumber buku :
Pertama, dari karyanya yang terkenal dengan sebutan “Buku Bonang”. Naskah aslinya ditemukan oleh pedagang Belanda bernama Van Dulmen di daerah Tuban dan disimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda pada tahun 1597 M, yang kemudian dijadikan sebagai bahan tesis oleh DR B.J.O. Schrieke pada tahun 1916 dengan judul “Het Boek van Bonang”. Isinya menyangkut masalah tauhid dan tasawwuf menurut ajaran imam Al-Ghazali dan faham Ahlussunnah waljamaah, dengan memakai bahasa prosa Jawa Tengahan (pertengahan antara bahasa jawa kuno dan jawa modern) .
Kedua, kitab Primbon yang diyakini sebagai tulisan Sunan Bonang, terkenal dengan sebutan Primbon Abad ke-16. Naskah aslinya ditemukan bersama-sama dengan Buku Bonang di atas, kemudian dijadikan sebagai bahan tesis oleh DR J.G.H. Gunning pada tahun 1881 di Universitas Leiden dengan Judul Een Javaansche Geschrift uit de 16 de Eeuw. Isinya hampir sama dengan Buku Bonang. Hanya saja, naskah ini dimulai dari halaman 15 sampai 74, sedangkan halaman 1 sampai 14 hilang dan didalamnya tidak secara tegas menyebutkan nama penulisnya.
Ketiga, Kitab Suluk Wujil, dalam bentuk tulisan tembang (puisi jawa). Isinya menyangkut ajaran tasawwuf yang berpuncak pada ajaran Manunggaling kawula-Gusti menurut pemahaman Sunan Bonang.
Solichin Salam, dalam bukunya Sekitar Walisongo, mengutip secara ringkas ajaran Sunan Bonang tentang ajaran tasawwuf dan ketuhanan : “Adapun pendirian saya ialah, bahwa iman, tauhid dan makrifat merupakan pengetahuan yang sempurna. Sekiranya orang hanya mengenal makrifat saja, itu belum cukup. Sebab ia masih anshaf (setengah-setengah) dalam masalah ini. Yang saya maksudkan adalah, kesempurnaan dapat dicapai setelah mengabdi (beribadah) kepada Tuhan secara terus-menerus. Seseorang tidak menentukan geraknya sendiri, dan juga tidak menentukan kemauannya sendiri. Tiap orang adalah ibarat buta, tuli dan gagu. Semua gerak-geriknya ditentukan oleh Allah”.
Untuk lebih jelasnya, ajaran Sunan Bonang ini akan dikupas lebih luas dan dalam pada akhir tulisan ini, dibawah judul  “Ajaran-ajaran pokok Walisongo”.
Di bidang sosial kemasyarakatan dan kenegaraan, Sunan Bonang tidak perlu diragukan lagi dedikasinya sebagai pendukung setia kerajaan Islam Demak. Pada waktu pendirian Masjid Agung Demak, ia bersama-sama dengan para Wali ikut mendirikannya. Di antaranya, ia diberi tugas membuat salah satu sakaguru yang terletak di bagian barat laut.



4. SUNAN  GIRI

Sunan Giri yang bernama asli Raden Paku ini lahir di Blambangan Banyuwangi pada pertengahan abad ke-15, dan wafat di Giri Gresik pada tahun 1035 H/1506 M. Dari pihak ayahnya, ia masih keluarga Alawiyyin yang nasabnya sampai kepada Rasulullah. Sedangkan dari pihak ibunya, ia adalah cucu dari Raja Blambangan.
Ayahnya bernama Syekh Maulana Ishak bin Ibrahim Asmoro/Asmarakandi (berasal dari Samarkand, Asia Tengah. Kuburannya di desa Nggesik Tuban) bin Jamaluddin al-Husain bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Abdullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhy bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abadin bin Husain bin Ali, suami Fathimah az-Zahra binti Rasulullah Saw.
Dari silsilah di atas dapat diketahui bahwa Sunan Giri adalah cucu dari Ibrahim Asmoro, yang berarti ia adalah keponakan Sunan Ampel, dan saudara sepupu Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Maulana Ishak yang terkenal dengan julukan ‘Uluwwul Islam (orang Islam yang berada pada puncak kedudukan) adalah seorang Guru Besar, khususnya di bidang ilmu ketuhanan dan tasawwuf, dan menjadi pembina pesantren di Pasai yang santrinya datang dari berbagai penjuru dunia Islam, terutama dari kepulauan Nusantara, India dan Persia. Dia adalah seorang yang zuhud, sangat sederhana, dan seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengajar dan berdakwah ke luar daerah. Selain mengajar, ia juga mengirimkan para santrinya yang memiliki ilmu yang cukup untuk berdakwah di berbagai daerah. Ia sendiri pernah datang ke Jawa dan tinggal beberapa waktu lamanya di kediaman Sunan Ampel, yang kemudian ditugasi untuk berdakwah di kalangan masyarakat dan keluarga istana kerajaan Blambangan.
Menurut cerita babad, Syekh Maulana Ishak berjasa menyembuhkan Rara Sabodi alias Dewi Sekardadu (Makamnya di bukit Petukangan Giri Gresik) putri Raja Blambangan Prabu Menak Sembuyu.  Atas jasanya ini, ia diambil menantu oleh sang Raja untuk diperistrikan dengan Dewi Sekardadu. Ia berusaha mengislamkan sang Raja, namun sang Raja tersinggung, mungkin disebabkan oleh metode berdakwahnya yang kurang tepat, akhirnya ia diusir dari istana tanpa diperbolehkan membawa serta isterinya yang sedang mengandung. Selanjutnya ia pulang ke negeri Pasai untuk mengajar dan membina pesantren di sana.
Tidak begitu lama setelah Dewi Sekardadu melahirkan seorang bayi lelaki yang diberi nama Raden Paku, terjadilah malapetaka, wabah penyakit dan kekacauan di Blambangan. Timbul prasangka buruk bahwa bencana ini disebabkan oleh kelahiran cucu sang Raja, maka dilarunglah bayi tersebut ke laut oleh kakeknya sendiri. Mujur, peti yang berisi bayi ini terkatung-katung mendekati kapal dagang milik Nyi Ageng Pinatih , seorang janda kaya dari Gresik (makamnya di desa Kebungson Gresik). Maka diambillah peti yang berisi bayi tersebut oleh nahkoda kapal yang bernama Sayyid Abdurrahman (Makamnya di bukit Petukangan, Giri Gresik), lalu dibawanya ke Gresik dan dipungut sebagai anak angkat oleh Nyi Ageng Pinatih yang juga dikenal dengan sebutan Nyi Ageng Tandes (karena berkedudukan di Gresik yang dulu terkenal dengan wilayah Tandes), Nyi Ageng Ternate, atau Nyi Ageng Maloka (karena ia menguasai jalur pedagangan sampai ke pulau Maluku). Setelah agak besar, Raden Paku diserahkan  kepada Sunan Ampel untuk dididik agama di pesantrennya. Bahkan di kemudian hari, ia diambil menantu oleh Sunan Ampel, diperisterikan dengan putrinya yang bernama Dewi Murthasiyah.
Selanjutnya Raden Paku bermaksud ke Makkah untuk berhajji dan memperdalam ilmunya di sana bersama-sama dengan Raden Makhdum Ibrahim. Di tengah perjalanannya, Raden Paku singgah di Pasai untuk mendalami ilmu kepada ayahnya, Maulana Ishak, untuk persiapan belajar di tanah suci. Oleh gurunya, yang sekaligus ayahnya, Raden Paku diberi gelar ‘Ainul Yaqin, disebabkan keberhasilannya mencapai maqam kasy-syaf  dan memperoleh Ilmu Ladunni.
Seusai belajar dan berhajji, Raden Paku pulang ke Gresik untuk mengembangkan ilmunya, disamping membantu kelancaran perdagangan ibu angkatnya. Setelah muridnya semakin banyak, ia meninggalkan perdagangannya dan memusatkan diri mengembangkan ilmunya dengan membuka pesantren di Giri Gresik. Pada masa-masa selanjutnya, Pesantren Giri menjadi pusat pendidikan dan pengajaran agama Islam. Para santrinya datang dari berbagai penjuru Nusantara, terutama wilayah Indonesia bagian Tengah dan Timur, seperti dari Madura, Bawean, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Lombok dan sekitarnya. Mereka yang dipandang memiliki ilmu yang cukup, lalu diutusnya untuk berdakwah ke wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Sunan Giri terkenal sebagai seorang pendidik anak-anak. Banyak metode dan media pendidikan anak yang ia ciptakan, yang sebagian besar berbentuk permainan dan lagu anak-anak, seperti permainan jitungan, tembang jamuran, gendi gerit, jor, gula ganti, cublek-cublek suweng, ilir-ilir, dan lain-lain.
Tembang atau lagu ciptaan Sunan  Giri, jika kita cermati maknanya, mengandung ajaran Islam yang sangat tinggi. Misalnya tembang Ilir-ilir yang berbunyi :
Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir // Tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar // Cah angon, cah angon, penekno blombing kuwi // lunyu-lunyu penekno kanggo masuh dodotiro // Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir // dondomono jlumatono, kanggo sebp mengko sore // Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane // Dak sorak-sorak… horee…!”.
Maksudnya : Makin subur dan tersiar agama Islam. Hijau royo-royo (lambang agama Islam) sangat menarik perhatian masyarakat, bagaikan penganten baru, karena baru dikenal masyarakat. Wahai penggembala (penguasa /pemimpin), lekas masuk islamlah dan laksanakan shalat lima waktu (dilambangkan dengan blimbing bersegi lima). Meskipun sulit dan berat, tetap laksanakanlah untuk mensucikan “dodotiro” (pakaianmu), yakni kepercayaan, jiwa dan hati anda yang kotor. “Dodotiro”, kepercayaan, jiwa dan hati anda yang robek (karena dirusak oleh kepercayaan lama, dosa dan maksiat) tersebut perbaikilah kembali untuk persiapan menghadap Tuhan pada akhir hayat nanti. Mumpung masih hidup dan mumpung punya kesempatan yang luas untuk bertaubat. Bergembiralah dan berbahagialah bagi orang-orang yang mensucikan diri.
Tembang Ilir-ilir di atas, menurut sementara pihak diciptakan Sunan Kalijaga. Oleh karena Sunan Giri sangat terkenal gemar menciptakan tembang dan permainan untuk pendidikan anak-anak, maka sangat besar kemungkinannya bahwa tembang di atas ciptaan Sunan Giri. Jika tidak demikian, paling tidak, tembang tersebut diciptakan pada jaman Walisongo. Masalah siapa penciptanya, bukan persoalan penting.
Kewibawaan dan pengaruh Sunan Giri sangat besar di kerajaan Demak. Hampir tidak ada persoalan besar dan penting yang tidak dimintakan fatwanya terlebih dahulu kepadanya. Bahkan menurut cerita babad, Sunan Giri-lah yang menjadi hakim pemutus dalam kasus Seh Siti Jenar. Dan di kalangan kelompok Walisongo, Sunan Giri termasuk wali yang dituakan, menduduki peringkat kedua setelah Sunan Ampel. Sedangkan di bidang politik, ia diberi gelar Tetunggul Khalifatullah, yang menjadi Raja bagi kaum muslimin. Di samping itu, Sunan Bonang pun juga salah satu tetua Walisongo, namun ia lebih dipandang sebagai pemimpin yang menguasai dan mengatur bidang Ngelmu, atau sebagai Panatagama. Karenanya, Sunan Bonang digelari dengan Prabu Hanyakrawati.



5. SUNAN  DRAJAT

Sunan Drajat yang memiliki nama lain Masih Munat dan bernama asli Raden Syarifuddin ini merupakan putra Sunan Ampel dan adik dari Sunan Bonang. Ia lahir beberapa tahun setelah Sunan Bonang. Wafatnya diperkirakan tahun 1570 M di Sidayu Gresik, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Sunan Sidayu. Sementara isterinya yang bernama Dewi Sufiyah, menurut suatu riwayat, adalah putri Sunan Gunung Jati.
Tidak banyak riwayat yang menuturkan kehidupannya, selain bahwa ia dikenal sebagai seorang Wali yang berkedudukan di Sedayu Gresik, yang memiliki jiwa sosial dan kedermawanan yang sangat tinggi. Karenanya, tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan. Ia selalu memberi pertolongan kepada masyarakat umum, menyantuni anak yatim dan kaum fuqara’ wa masakin sebagai proyek sosial yang dianjurkan agama Islam. Jiwa sosial yang begitu tinggi ini bukan semata-mata karena ia mendalami ilmu tasawwuf, akan tetapi karena ia adalah seorang muslim yang kokoh dan besar ketakwaannya kepada Allah swt. Ia yakin benar, bahwa apa yang ia punyai sama sekali bukanlah miliknya sejati, melainkan milik Allah yang seharusnya dimanfaatkan untuk kemaslahatan sesama manusia.
Dalam kegiatan dakwahnya, di samping memberi pengertian kepada masyarakat tentang kelurusan agama Tauhid dan amal peribadatan yang disyariatkan, juga menanamkan semangat ukhuwwah Islamiyah antar sesama muslim. Semangat ini tidak boleh dikurangi sedikitpun oleh rasa pamrih, selain mendambakan ridha dari Allah swt.



6. SUNAN  KALIJAGA

  Sunan Kalijaga yang bernama asli Raden Mas Syahid ini adalah satu-satunya Wali asli keturunan Jawa, yang memiliki jiwa besar, berpandangan jauh ke depan, serta berpikiran intelek dan tajam. Ia lahir di Tuban. Kapan hari kelahiran dan wafatnya, tidak diketahui dengan pasti, selain bahwa makamnya berada di Kadilangu Demak dan hidup sejaman dengan Sunan Bonang. Bahkan menurut cerita babad, ia merupakan Wali yang paling panjang usianya, karena ia mengalami tiga periode pemerintahan, yakni periode Demak, Pajang dan awal berdirinya Mataram Islam.
Ayahnya bernama Tumenggung Wilotikto (bupati Tuban) bin Arya Teja III (mertua Sunan Ampel) dan ibunya bernama Dewi Nawang Rum. Dengan demikian, ia adalah keponakan Sunan Ampel, yang di kemudian hari ia diperisterikan dengan putrinya yang bernama Siti Khafshah (menurut riwayat lain bernama Siti Muthmainnah)
Sebelumnya, Sunan Kalijaga pertama kali menikahi Dewi Saroh binti Maulana Ishak bin Ibrahim Asmarakandi, yang nantinya melahirkan tiga orang anak, yaitu Raden Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rukayah dan Dewi Sofiyah.
Selanjutnya menurut buku Pustoko Darah Agung, Sunan Kalijaga menikah untuk yang kedua kalinya dengan Ratu Kano dari Kediri, maka lahirlah lima orang anak : 1) Kanjeng Ratu Pembayun, isteri Sultan Trenggono;  2) Nyi Ageng Panenggak, isteri Ki Ageng Paker;  3) Sunan Hadi, alias Panembahan Kali;  4) Raden Abdurrahman;  5) Nyi Ageng Ngerang, isteri Ki Ageng Ngerang III di Laweyan Solo.
Sedangkan isteri Sunan Kalijaga yang ketiga adalah Siti Khafshah (menurut riwayat yang lain bernama Siti Muthmainnah), putri Sunan Ampel.
Pada masa mudanya, Raden Syahid terkenal dengan julukan Brandal Lokajaya, disebabkan kehidupannya yang penuh diwarnai dengan kekerasan, perampokan, kesesatan, pembunuhan dan kejahatan besar lainnya. Berkat dakwah dan bimbingan Sunan Bonang, ia bertobat ke jalan yang benar. Bahkan di kemudian hari ia menjadi tokoh utama Walisongo yang mendapat julukan Wali Penutup dan “Puser” (pusat) para Wali.
Raden Syahid juga terkenal dengan julukan Sunan Kalijaga. Kata “Kalijaga” yang berarti penjaga kali / sungai adalah berawal dari kisah babad. Setelah bertobat, ia bermaksud ingin menjadi murid Sunan Bonang. Sebagai syarat menjadi murid, ia harus duduk bertapa di tepi kali / sungai sambil menunggui tongkat yang ditancapkan gurunya itu. Ia tidak boleh berpindah dari tempat duduknya sampai gurunya kembali. Menurut cerita ini, konon Sunan Bonang lupa dengan janjinya untuk menemui kembali sang murid yang ditugaskan menunggui tongkatnya, dan baru ingat setelah beberapa tahun berlalu. Sementara sang murid mentaati perintah gurunya itu dengan sabar, sampai-sampai badannya “lumuten” (berlumuran lumut),  rerumputan dan akar-akar pepohonan tumbuh merambati badannya. Masyarakat sekitar yang melihat pemandangan tersebut  kemudian menjulukinya dengan sebutan Kalijaga (penjaga kali).
Cerita di atas menurut sementara pihak dipandang sebagai cerita yang benar-benar terjadi. Sedangkan hal-hal aneh dan tidak masuk akal didalam cerita di atas menunjukkan kesaktian dan karamah Sunan Kalijaga, seperti kuat duduk semedi tanpa bergerak dan berpindah selama beberapa tahun, bahkan selama waktu itu ia kuat tidak makan dan minum.
Menurut sumber yang lain, cerita di atas adalah bukan cerita yang sesungguhnya, tetapi merupakan cerita simbolik atau cerita sandi yang kaya dengan makna dan penafsiran. Menunggu tongkat yang ditancapkan Sunan Bonang adalah simbol dari usaha memelihara ajaran atau keimanan Islam yang diajarkan Sunan Bonang kepadanya. Sungai yang airnya mengalir dari beberapa anak sungai yang akhirnya bermuara ke laut, melambangkan berbagai aliran kepercayaan dan agama yang ada di tengah masyarakat saat itu untuk diarahkan oleh Sunan Kalijaga kepada suatu kepercayaan / agama yang lurus dan benar, yakni Islam. Ketekunan dalam bertapa sebagai lambang ketabahan, keuletan, kesetiaan dan ketaatannya kepada Sunan Bonang. Sedangkan rerumputan dan akar yang merambati badannya, serta badannya sampai “lumuten”, melambangkan jangka waktu yang sangat panjang.
Raden Syahid yang juga dijuluki Seh Malaya ini memiliki daerah operasi dakwah yang tidak terbatas, dan dikenal sebagai seorang Muballigh keliling yang sangat merakyat, terutama  di wilayah pedalaman Jawa. Karena gaya dakwahnya yang intelek dan aktual, serta sikapnya yang sangat toleran terhadap kepercayaan dan adat istiadat yang berkembang, maka tidak sedikit para bangsawan dan pujangga kraton (cendekiawan) yang  bersimpati kepadanya, disamping juga berbagai kelompok masyarakat awam dan para penguasa. Oleh karenanya, nama Sunan Kalijaga lebih dikenal dan sangat pupuler di kalangan masyarakat Jawa, khususnya wilayah pedalaman, daripada para Wali lainnya.
Selain sebagai Muballigh, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai budayawan yang sangat besar sumbangannya terhadap perkembangan kebudayaan Indonesia. Ia cukup kreatif  dalam menciptakan beberapa cabang kebudayaan, terutama bidang kesenian yang sangat kaya dengan nuansa keislaman. Dia sangat kreatif merubah corak dan bentuk seni yang sudah lama berkembang di masyarakat setelah terlebih dahulu dimuati nilai-nilai keislaman. Misalnya seni ukir, yang pada jaman pra Islam motifnya penuh dengan ukiran makhluk bernyawa (manusia dan binatang), kemudian dirubah dengan ukiran bermotif bunga, dedaunan dan lainnya yang tidak bernyawa. Dalam soal pakaian, ia menciptakan bentuk atau mode baju yang lebih dikenal dengan baju “takwa”. Seni batik yang pada jaman pra Islam diwarnai dengan motif illustrasi gambar burung, yang dalam bahasa kawinya disebut “kukila”, lalu diberi makna sesuai dengan yang dikehendaki Islam. “Ku” berasal dari bahasa arab “Qu” yang berarti jagalah, dan “kila” dari bahasa arab “qila” yang berarti yang diucapkan. Dengan demikian, gambar burung “kukila” mengandung pesan, bahwa seseorang hendaklah mampu menjaga lisannya.
Untuk memanggil orang shalat, Sunan Kalijaga memerintahkan Sunan Pandanarang agar membuat bedug dan kentongan. “Kentongan” yang jika ditabuh berbunyi tong tong tong, lalu diberi makna “Masjid masih kosong” (bahasa jawanya kothong) dan “Bedug” yang berbunyi deng deng deng, lantas diberi makna “Masjid masih muat” (bahasa jawanya sedeng).
Seni wayang yang sudah lama berkembang di masyarakat sejak pra Islam, tetap dipertahankan keberadaannya untuk dijadikan sebagai sarana dakwah yang cukup efektif. Bahkan dikembangkan dalam bentuk baru dengan dimuati nilai-nilai simbolik yang bernafaskan keislaman. Sumbangan Sunan Kalijaga dalam bidang ini antara lain menambah perangkat “debog” (batang pisang) untuk menancapkan wayang, “geber” atau layar, “blencong” atau dian. Orang yang memainkan wayang disebutnya “dalang”, yang diambil dari bahasa arab “dalla” yang berarti orang yang menunjukkan (sutradara). Ia bersama-sama dengan Sunan Bonang dan Sunan Giri menciptakan wayang punakawan pandawa yang terdiri dari tokoh Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Nama-nama tokoh tersebut diambilkan dari bahasa arab : Semar dari kata simaar yang berarti paku, sebagai simbol bahwa kebenaran Islam sangat kuat sekokoh paku yang ditancapkan; Petruk dari kata Fatruk yang berarti tinggalkanlah, mengandung pesan agar meninggalkan apa saja selain Allah; Nala Gareng dari kata nala qariin yang berarti memperoleh banyak kawan, mengandung pesan agar bersikap dan berakhlak yang mulia agar memperoleh banyak teman; Bagong dari kata bagha yang berarti lacut atau berontak, membawa pesan agar memberontak dan memberantas segala bentuk kezhaliman.
Lakon atau cerita pewayangan yang pada jaman pra Islam selalu bersumber dari kitab Mahabarata dan Ramayana, kemudian diganti oleh Sunan Kalijaga dan para Wali yang lain dengan cerita atau lakon carangan buatan sendiri yang penuh dengan nilai-nilai dan pesan Islami. Misalnya, lakon Dewa Ruci, Jimat kalimasada (kalimat syahadat), Petruk dadi Ratu, Pandu Pragola, Semar ambarang jantur, Mustaka weni, dan lain-lain. Cerita Jimat kalimasada mengandung pesan bahwa seseorang akan hidup selamat dunia akhirat jika ia memiliki senjata berupa bacaan dua kalimat syahadat.  Lakon Dewa Ruci penuh dengan makna simbolik, yang menceritakan bahwa Bima dan Pandawa disuruh gurunya (Pandita Durna) untuk menemui Dewa Ruci yang berada di dasar laut untuk mencari air penghidupan atau air suci (“Tirta Amertha”) dan hikmah tertinggi. Tokoh Dewa Ruci dipersonifikasikan sebagai Nabi Khidir, sebagai simbol dari kaum sufi. Lakon ini mengandung pesan : kalau ingin mengetahui makna kehidupan dan sangkan paraning dumadi (hakekat dan asal usul kejadian/makhluk), hendaklah menemui dan belajar kepada kaum sufi. Sedangkan lakon Petruk dadi Ratu mengandung pesan, bahwa Jika seseorang memiliki jimat (berpegangan pada) kalimat syahadat, ia akan hidup mulia dan terhormat, meskipun ia seorang budak atau orang yang berpangkat rendah di tengah masyarakatnya.
Sunan Kalijaga termasuk kelompok Walisongo yang sangat toleran dan tidak  langsung bersikap antipati terhadap tradisi lama yang kental dengan nilai-nilai kesyirikan, kehinduan dan kepercayaan lama yang sudah mendarahdaging di tengah masyarakat. Misalnya, tradisi kenduren atau selametan yang pada jaman pra islam berbentuk ritual pengiriman sesajen kepada leluhur yang sudah mati dengan diiringi pembacaan mantra-mantra tertentu, diusulkan oleh Sunan Kalijaga kepada permusyawaratan Walisongo agar tetap dipertahankan keberadaannya, setelah terlebih dahulu dimuati dengan nilai-nilai aqidah islamiyah dan diberi makna baru (reinterpretasi) agar tidak terjerumus kedalam bentuk kesyirikan. Bacaan mantera diganti dengan bacaan ayat-ayat suci  Al-Qur’an, kalimat thayyibah (tahlil) dan doa-doa Islam, disertai niat semoga pahala membacanya dihadiahkan Allah kepada orang yang mati. Adapun sesajen yang dipersiapkan untuk dikirim kepada para leluhur atau arwah yang sudah wafat,  yang biasanya berupa berbagai macam jajan pasar dan makanan kesukaannya, tidak lagi diberikan/disajikan kepada yang orang yang mati, tetapi diganti dengan “berkat” (makanan ‘oleh-oleh’) untuk diberikan dan disedekahkan kepada orang yang hidup, terutama kepada orang yang diundang mengikuti kenduren, dengan niat semoga pahala sedekah tersebut diberikan Allah kepada orang yang mati. Sementara sesajen penting yang berupa aneka ragam  jajan pasar diganti dengan tiga jenis makanan : ketan, kolak dan apem dengan diberi makna baru. Ketiga nama makanan tersebut diambil dari bahasa arab yang diucapkan secara keliru oleh masyarakat jawa. Kata “ketan dari bahasa arab “Khatha-an” yang berarti kesalahan atau dosa; “kolak dari bahasa arab “qaala” yang berarti berkata atau berdoa; dan “apem” dari kata “Afwun” yang berarti ampunan. Dari ketiga nama makanan tersebut terkandung suatu ajaran, bahwa manusia tidak dapat lepas dari dosa dan salah. Oleh karena itu, hendaklah ia berdoa kepada Allah untuk memohon ampunan-Nya. Semula usulan tersebut ditentang oleh kelompok Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat. Namun dengan dukungan dari Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Muria dan Sunan Gunungjati, serta didukung dengan dalil-dalil islami dan alasan yang rasional, akhirnya kelompok Sunan Ampel menyetujuinya.



7. SUNAN  KUDUS

Sunan Kudus yang bernama asli Ja’far Shadiq adalah putra Raden Usman Haji, alias Sunan Ngudung, yang dilihat dari silsilah nasabnya ia masih keturunan Rasulullah.
Menurut buku Sunan Kudus tulisan Solichin Salam, Raden Usman Haji adalah putra Raja Pandita bin Ibrahim Asmarakandi bin Maulana Muhammad Jumadil Kubro bin Zain al-Husain al-Kubra bin Zain al-‘Alim bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, suami Fathimah az-Zahra binti Rassulullah saw. Mungkin yang dimaksud dengan “Raja Pandita” di sini adalah Sekh Maulana Ishak. Dengan begitu, Raden Usman haji adalah saudara seayah dengan Sunan Giri, sedangkan Sunan Kudus berarti masih keponakan Sunan Giri.
Tidak diketahui dengan pasti kapan ia dilahirklan. Yang jelas, ayah Sunan Kudus, Raden Usman Haji, oleh persidangan para wali di Demak pernah ditunjuk sebagai Panglima perang dalam suatu peperangan melawan Majapahit (yang saat itu di bawah kendali kerajaan Daha Kediri), lalu gugur sebagai syuhada’. Untuk melanjutkan peperangan ini, maka ditunjuklah Sunan Kudus sebagai pengganti kedudukan ayahnya untuk memimpin bala tentara Demak. Dari sini dapat diketahui, bahwa pada awal berdirinya kerajaan Demak, Sunan Kudus sudah berusia cukup dewasa. Sunan Kudus wafat pada tahun 1501 syaka atau tahun 1579 M dan jenazahnya dimakamkan di sebelah barat Masjid Agung Menara Kudus.
Sunan Kudus juga bergelar Amirul Hajj, karena ia pernah menjadi pemimpin rombongan jamaah haji. Sementara gelar Sunan Kudus diberikan kepadanya karena ia memilih tempat kediaman, menjadi imam serta menyiarkan agama Islam di kota Kudus dan sekitarnya. Ilmu agamanya cukup luas, terutama di bidang fiqih, ushul fiqh, tauhid, hadis, tafsir dan logika. Karena itulah ia mendapatkan gelar Waliyyul ‘Ilmi (Orang yang luas keilmuannya). Di samping sebagai muballigh, ia juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak yang tangguh, dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus.
Sunan Kudus berjasa mendirikan Masjid Agung Kudus yang dilengkapi dengan “Menara” berbentuk seperti bangunan candi pada tahun 1468 syaka atau 1537 M. Masyarakat menyebutnya “Masjid Menara Kudus”. Menurut cerita babad, Sunan Kudus pernah belajar di kota Baitul Maqdis Palestina. Di sana ia pernah berjasa memberantas wabah penyakit ganas yang berjangkit di kota tersebut. Sedangkan menurut sumber cerita yang lain, peristiwa tadi terjadi sewaktu ia menunaikan haji ke kota Makkah. Maka atas jasanya ini, oleh Amir atau penguasa setempat, ia diberi hadiah. Namun Sunan Kudus berharap agar hadiah tersebut berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis. Permintaannya lalu dipenuhi sang Amir. Sebagai peringatan mengenang peristiwa tersebut, sekembalinya di Jawa, ia mendirikan Masjid lengkap dengan menaranya yang diberi nama Masjid al-Aqsha. Sementara batu kenangan tersebut ditempelkan di atas pengimaman masjid. Kemudian daerah di sekitarnya diganti namanya dengan “Kudus”, yang diambil dari nama kota Baitul Maqdis atau Al-Quds.
Sunan Kudus memiliki kepribadian gagah berani, suatu sifat yang sangat diperlukan sebagai seorang Panglima perang. Ia terkenal sebagai seorang ulama ahli Fiqih yang sangat ketat dalam memegangi aturan syariat dan tegas dalam bertindak menghadapi kaum penyeleweng. Diriwayatkan, ia sangat berperan dalam kasus pelaksanaan eksekusi hukuman mati teradap diri Sekh Siti Jenar dan berhasil memadamkan pemberontakan murid Seh Siti Jenar yang dipimpin oleh Kebo Kenongo, seorang Bupati di Pengging.
Dalam cerita-cerita babad dikatakan, Sunan Kudus  menikahi Dewi Rukhil binti Sunan Bonang. Dengan demikian, silsilahnya bertemu dengan silsilah isterinya pada datuknya yang bernama Ibrahim Asmarakandi. Dari perkawinannya ini ia mendapatkan seorang putra bernama Amir Hasan. Sedangkan sumber lain mengatakan, ia juga menikahi putri Adipati Pecattanda dari Majapahit. Dari perkawinannya ini ia mendapatkan delapan anak, yaitu Nyi Ageng Pambayun, Panembahan Palembang, Panembahan Makaos Ronggokusumo, Pangeran Kodhi, Pangeran Karimun, Pangeran Sujoko (wafat masih jejaka), Ratu Pakojo dan Ratu Prodobinabar. Setelah wafatnya, jenazah beberapa anak Sunan Kudus dimakamkan di sekitar makamnya di kota Kudus.



8. SUNAN  MURIA

Sunan Muria bernama asli Raden Umar Sa’id dan nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Tidak ada riwayat yang pasti, kapan tepatnya ia dilahirkan dan wafat. Yang jelas, makamnya berada di lereng bukit Muria di daerah Colo Kudus. Ia merupakan putra Sunan Kalijaga dari isteri pertama, Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Dengan demikian, dari pihak ibunya, ia adalah keponakan Sunan Giri, yang berarti ia masih keturunan Rasulullah saw. Setelah Dewasa, ia menikahi Dewi Sujinah binti Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, yang nantinya melahirkan putra bernama Pangeran Santri alias Sunan Kadilangu. Dengan perkawinannya ini berarti ia adalah saudara ipar Sunan Kudus.
Sunan Muria adalah seorang Walisongo yang berjasa dalam mengembangkan agama Islam di pedesaan pulau Jawa. Memang ia suka berdakwah di desa-desa yang terpencil dari keramaian kota, sesuai dengan kepribadiannya yang suka menyendiri dan mencari tempat yang tenang atau sepi sebagai tempat tinggalnya, yakni di lereng bukit Muria. Ia  lebih suka berdakwah ke kalangan masyarakat kecil atau rakyat jelata, dan metode dakwahnya pun cukup luwes, halus dan lunak. Sikapnya terhadap tradisi dan adat lama yang berkembang di tengah masyarakat, sama dengan sikap ayahnya, sebagaimana yang diceritakan di atas. Demikian pula dalam bidang kesenian, ia menyumbangkan karya berupa tembang Sinom dan Kinanti.
Menurut cerita babad yang berkembang di masyarakat, Sunan Muria menjalankan Riyadhah atau “lelakon” sebagaimana yang pernah dijalankan oleh ayahnya, yakni Topo Ngeli”, bersemedi dengan cara menghanyutkan diri ke dalam air mengikuti arus sungai, yang tentu saja bermuara pada satu tujuan, yakni Lautan.. Masyarakat pada umumnya percaya bahwa cerita ini memang benar-benar terjadi dalam kenyataan. Namun menurut pandangan yang lain, cerita ini lebih bersifat simbolik atau cerita sandi yang sangat kaya dengan makna. Makna yang terkandung didalamnya adalah, bahwa “ngeli”  berarti  menghanyutkan diri; “arus sungai” adalah simbol dari aliran keyakinan, agama, adat istiadat, tradisi yang berkembang di masyarakat; sedangkan “laut” sebagai lambang agama Islam yang merupakan satu-satunya agama yang benar.
Dengan kata lain, cerita di atas menggambarkan tentang taktik dan strategi berdakwah Sunan Muria yang suka terjun langsung dan mampu menghanyutkan diri atau pandai menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat yang beraneka ragam corak budaya, tradisi, adat istiadat, aliran keyakinan dan keagamaannya. Dengan sikapnya yang toleran, ramah dan halus, serta berprinsip pada Tut Wuri Handayani, Sunan Muria mampu membimbing dan mengarahkan mereka dari belakang kedalam ajaran agama yang benar yakni Islam. Tradisi dan adat istiadat lama yang berkembang dibiarkan terus berjalan, sambil dipengaruhi, diadakan perubahan dan dimuati dengan nilai-nilai keislaman, sehingga tradisi dan adat istiadat yang tadinya berbau syirik dan bid’ah, kemudian berubah secara perlahan (“Alon-alon wathon kelakon”, sedikit demi sedikit, tetapi sampai) menjadi suatu tradisi dan adat istiadat baru yang penuh dengan nilai-nilai keislaman, tanpa menimbulkan kekacauan dan pertentangan di masyarakat.



9. SUNAN  GUNUNGJATI

Sunan Gunungjati yang bernama asli Syarif Hidayatullah, menurut naskah silsilah yang disusun oleh Sayyid Ahmad bin Abdullah as-Saqqaf, adalah putra Syarif Abdullah bin Ali Nur Alam bin Maulana Jamaluddin al-Akbar al-Husain bin Ahmad Syah Jalal bin Amir Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Ali bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, suami Fathimah az-Zahrah binti Rasulullah saw. Hubungannya dengan Sunan Ampel, ia adalah keponakannya, karena nasabnya bertemu dengan Sunan Ampel pada datuknya yang bernama Maulana Jamaluddin al-Akbar al-Husain.
Sementara menurut buku Pustoko Darah Agung, Sunan Gunungjati adalah putra Sekh Maulana Ishak yang lahir dari isteri ketiganya, yakni seorang wanita (tidak jelas namanya) putri Batara Katong, salah satu dari putra Prabu Brawijaya V yang menjadi Adipati Majapahit di Ponorogo. Lepas dari salah dan benarnya silsilah tersebut, yang jelas Sunan Gunungjati adalah anak Sekh Maulana Ishak dan masih keturunan Rasulullah saw. Hubungannya dengan Sunan Giri, ia adalah saudara seayah berbeda ibu dengannya.
Syarif Hidayatullah lahir di Pasai dan tidak jelas tanggal kelahirannya. Pada masa kecilnya, ia belajar agama pada ayahnya, Syekh Maulana Ishak, di Pasai. Menjelang dewasanya, Pasai diduduki oleh penjajah Portugis yang datang dari Malaka dan karena perasaan bencinya kepada kaum kafir tersebut, akhirnya ia terdorong pergi ke Makkah untuk menuntut ilmu sekaligus melakukan haji di sana.
Menurut buku Sejarah Banten Rante-rante, Syarif Hidayatullah menuntut ilmu, terutama tasawwuf dan tarekat, di Makkah dan Madinah. Di sana ia di-baiat sebagai penganut tarekat  Syadziliyah, Syattariyah, Naqsyabandiyah, dan terutama tarekat Kubrawiyah. Bahkan diceritakan, ia pertama kali berguru kepada Syekh Najmuddin al-Kubra (pendiri tarekat Kubrawiyah), kemudian berguru kepada Ibnu Athaillah al-Sakandari al-Syadzili (penulis kitab Al-Hikam). Didalam buku itu juga disebutkan silsilah tarekat Kubrawiyah dan 27 murid seperguruan dengan Syarif Hidayatullah dalam tarekat ini.
Namun cerita tersebut  agak janggal jika ditilik dari biografi Syekh Najmuddin yang wafat di Khawarizmi (Asia Tengah) pada tahun 1221 dan Ibnu Athaillah yang wafat di Mesir pada abad ke-13, dan juga ada beberapa “tokoh” yang dikatakan sebagai murid seperguruan dengannya ternyata hidup jauh sebelum Syarif Hidayatullah lahir.
Lepas dari salah dan benarnya, mungkin yang dimaksudkan oleh cerita tersebut adalah bahwa Syarif Hidayatullah mempelajari dan mendalami ajaran tarekat Kubrawiyah, tarekat Syadiliyah dan kitab tasawwuf Al-Hikam karya Ibnu Athaillah. Atau mungkin yang dimaksudkannya adalah ia selalu berhubungan dengan para guru tarekat Kubrawiyah, baik di Makkah maupun setelah di Banten, karena pada saat itu tarekat ini telah diikuti oleh para pembesar Kesultanan Turki Usmani dan dianggap sebagai tarekat yang terhebat. Selain itu, tarekat ini sebelumnya memang sudah masuk ke tanah Jawa dibawa oleh Syekh Jumadil Kubra, nama lain dari Syekh Maulana Jamaluddin al-Husain al-Kubra yang menjadi nenek moyang para Walisongo, selain Sunan Kalijaga.
Setelah beberapa tahun berada di Makkah, ia pulang ke Pasai dan ternyata penjajah Portugis masih bercokol di sana. Hal ini semakin menambah kebenciannya kepada mereka, lalu memutuskan diri untuk meninggalkan Pasai menuju ke Jawa. Kedatangannya di Jawa pada tahun 1521 M mendapatkan sambutan baik dari Sultan Trenggono yang saat itu sedang berkuasa di Demak. Pada masa Sultan Trenggono (1521 – 1546 M) ini, Demak mengalami masa kejayaan. Daerahnya semakin luas dan angkatan lautnya pun cukup kuat, sehingga Demak berani menyerang dan mengusir Portugis yang sedang menjajah Malaka, meskipun tidak berhasil. Hanya penjajah portugis yang mencoba menjajah daerah Sunda Kelapa (tahun 1526 M) yang berhasil dihancurkan oleh pasukan Demak yang dipimpinan oleh Panglima Syarif Hidayatullah pada tahun 1527 M, setelah sebelumnya Banten dapat ditundukkan dari kekuasaan Pajajaran. Untuk menandai kemanangan ini, kota pelabuhan Sunda Kelapa diganti namanya dengan Jayakarta, yang berarti kota kemenangan. Sementara Syarif Hidayatullah sendiri mendapatkan julukan Fatahillah yang berarti kemenangan dari Allah, dan kemudian diucapkan secara salah oleh lidah Portugis dengan Falatehan.
Setahun kemudian, tahun 1528, kota pelabuhan Cirebon dapat direbutnya dari kekuasaan Pajajaran. Dan berkat bantuan dari Syarif Hidayatullah, beberapa wilayah Jawa Barat bagian pesisir utara Jawa (Banten, Jayakarta, Cirebon dan sekitarnya), yang tadinya di bawah kekuasaan Pajajaran, tunduk kepada Kesultanan Demak.  Alasan pokok perebutan wilayah tersebut adalah karena Pajajaran dipandang telah mengadakan persekutuan dengan Portugis, berdasarkan surat perjanjian yang ditandatangi oleh kedua pihak pada tahun 1522  di Pakuan Bogor, sehingga dikhawatirkan akan membahayakan Kesultanan Demak. Untuk menjaga kelestarian daerah tersebut, Syarif Hidayatullah diangkat sebagai penguasa di daerah tersebut, setelah sebelumnya Sultan Trenggono menikahkannya dengan saudara perempuannya, putri Raden Patah.
Selain menjadi penguasa, Syarif Hidayatullah juga menjadi seorang Muballigh yang menyebarkan agama Islam di wilayah yang dikuasainya. Meskipun diangkat sebagai penguasa dan berhasil mengislamkan masyarakat Jawa Barat bagian utara dan sekitarnya, serta sangat besar pengaruhnya di wilayah tersebut, ia tetap tunduk sepenuhnya dan menjadi pendukung setia kesultanan Demak. Baru setelah Sultan Trenggono wafat dan terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana Demak yang berakhir dengan kemenangan Jaka Tingkir alias Hadiwijaya (menantu Sultan Trenggono) sebagai sultannya, Syarif Hidayatullah lalu memisahkan diri dari kekuasaan Demak dan mendirikan kesultanan sendiri di Banten dan Cirebon. Karena sejak saat itu, Kesultanan Demak telah jatuh dan berganti menjadi Kesultanan Pajang.
Pada masa selanjutnya, Kesultanan Banten diserahkan kepada putranya yang tertua, bernama Hasanuddin, sementara ia sendiri mengurusi daerah Cirebon. Setelah tua, ia menyerahkan Kesultanan Cirebon kepada putranya yang muda  dan ia sendiri memusatkan diri untuk berdakwah sampai wafat di Cirebon pada tahun 1570. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Gunung Jati. Sejak saat itu ia lebih dikenal dengan julukan Sunan Gunungjati.